Logo Bloomberg Technoz

“Mereka sudah bilang freeze, jadi tidak ada yang baru yang masuk. Tapi yang lama mungkin akan keluar. Tapi kita lihat, semoga ini bisa diantisipasi dengan baik,” tambahnya.

“Dengan perbaikan reformasi integritas yang kami lakukan pasti ada dampaknya. Kalau pun ada penyesuaian jangka pendek, kami melihat ini sebagai short term pain. Tapi Insya Allah long term gain gitu ya,” jelasnya.

“Segala kemungkinan bisa terjadi. Jadi jangan orang terus jadi dibikin panik dan lain-lain. Ini memang konsekuensi dari perbaikan yang kami lakukan.”

Sentimen Penting Free Float

Pengamat pasar modal menilai pengumuman lanjutan terkait rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Selasa, 12 Mei 2026 mendatang dapat mendorong volatilitas jangka pendek terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Pengamat Pasar Modal Reydi Octa menyebut pengumuman rebalancing MSCI berpotensi menjadi sentimen penting bagi IHSG, terutama dari sisi psikologis pasar dan persepsi investor global terhadap kualitas pasar modal Indonesia.

Warga melintas di depan layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (29/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

“Jika hasilnya kembali memunculkan isu free float, High Shareholding Concentration (HSC), atau pengurangan bobot saham tertentu, maka IHSG berisiko mengalami volatilitas jangka pendek karena investor asing cenderung lebih berhati-hati,” katanya kepada Bloomberg Technoz, Senin (11/05/2026).

Adapun, terhadap arus dana asing, rebalancing MSCI ungkap Reydi akan sangat berpengaruh karena banyak fund manager global menggunakan indeks MSCI sebagai acuan investasi.

“Jika bobot Indonesia turun atau ada saham yang keluar dari indeks, maka akan berakibat potensi capital outflow. Sebaliknya, jika pasar melihat reformasi BEI dan OJK mulai membaik, tekanan foreign outflow bisa terbatas dibanding sebelumnya,” tambahnya.

"Hasil rebalancing MSCI berpotensi menjadi sentimen negatif jangka pendek, terutama jika kembali memunculkan kekhawatiran soal kualitas free float dan struktur pasar Indonesia," jelasnya.

Disisi lain, apabila dalam pengumuman besok Selasa terdapat pengurangan bobot atau exclusion saham tertentu, tekanan jual asing masih cukup besar berpotensi terjadi.

“Jika terjadi pengurangan bobot, potensi jual saham asing cukup besar terutama di saham yang terdampak langsung dalam indeks MSCI,” ungkapnya.

Biasanya kata Reydi, passive fund akan melakukan penyesuaian portofolio otomatis sehingga memicu tekanan jual jangka pendek.

“Namun dampaknya tidak selalu permanen karena pasar juga akan melihat fundamental emiten, valuasi, dan peluang rebound setelah tekanan rebalancing selesai,” ungkapnya.

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, menegaskan tidak terdapat penambahan saham baru asal Indonesia dalam peninjauan indeks MSCI kali ini.

Meski demikian, ia menyebut ada kemungkinan beberapa saham Indonesia justru dikeluarkan dari indeks tersebut.

"Besok pengumumannya kita tunggu, kan mereka sudah bilang meng-freeze kan. Jadi, nggak ada yang baru yang masuk, tapi yang lama mungkin akan keluar," ungkapnya kepada wartawan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta Selatan, Senin (11/05/2026).

"Semoga ini bisa kita antisipasi dengan baik lah, karena kan saya sudah beberapa kali bilang, bahwa dengan perbaikan reformasi integritas yang kita lakukan, pasti ada dampaknya, dan kalaupun ada penyesuaian jangka pendek, kita melihat ini sebagai shorten pain lah, tapi insyaallah long term gain," imbuhnya.

(dhf)

No more pages