Logo Bloomberg Technoz

Trump dan Iran sama-sama menolak proposal perdamaian terbaru dari masing-masing pihak untuk mengakhiri konflik, di tengah upaya mempertahankan gencatan senjata yang rapuh.

Kemegahan kunjungan kenegaraan tersebut kini akan berlangsung di tengah situasi gencatan senjata yang masih rentan antara rival geopolitik utama China dan mitra strategis pentingnya di Timur Tengah.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan China—salah satu pendukung diplomatik terbesar Iran sekaligus pembeli utama minyak Iran—meningkat dalam beberapa pekan terakhir ketika pemerintahan Trump berupaya mengakhiri perang yang telah memicu krisis energi global.

Departemen Keuangan AS baru-baru ini menjatuhkan sanksi terhadap lima kilang minyak swasta China, termasuk salah satu yang terbesar di negara itu, karena mengolah minyak mentah Iran. Beijing merespons secara terbuka dengan sikap yang belum pernah terjadi sebelumnya, yakni memerintahkan perusahaan-perusahaan untuk mengabaikan sanksi AS. Namun di sisi lain, regulator keuangan China secara tertutup meminta bank-bank besar milik negara menangguhkan pinjaman baru kepada kilang yang masuk daftar hitam tersebut.

Perang Iran diperkirakan menjadi salah satu agenda utama dalam pertemuan puncak nanti. Sepekan sebelum Trump dijadwalkan tiba di Beijing, China menunjukkan kedekatan dan koordinasinya dengan Iran dengan menjadi tuan rumah kunjungan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

AS dan China sama-sama ingin Selat Hormuz kembali dibuka, mengingat seperlima arus minyak dan gas dunia melewati jalur tersebut sebelum konflik pecah. Pertanyaan utama bagi Beijing adalah apakah China bersedia menekan Teheran, serta imbal balik apa yang akan diminta dari Washington sebagai gantinya.

Kedua pemimpin diperkirakan juga akan membahas perpanjangan gencatan dagang yang dicapai di Korea Selatan pada Oktober tahun lalu, yang melonggarkan pembatasan ekspor termasuk pengiriman mineral tanah jarang ke AS. Kepastian pasokan mineral tersebut—yang penting untuk memproduksi berbagai barang mulai dari iPhone hingga jet tempur—menjadi prioritas utama Washington.

Isu Taiwan juga diperkirakan menjadi pembahasan penting dalam pertemuan itu. Beijing khawatir terhadap penjualan senjata AS ke pulau yang memiliki pemerintahan sendiri tersebut dan kemungkinan akan mendorong pemerintahan Trump menyatakan penolakan terhadap kemerdekaan Taiwan, menurut para analis China.

China memandang Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan berjanji akan mengambil alih kendali atas pulau tersebut pada akhirnya, termasuk dengan kekuatan militer bila diperlukan. Pemerintah di Taipei menolak pandangan itu dan menegaskan Taiwan secara de facto merupakan negara merdeka yang layak mendapat pengakuan internasional lebih luas.

Kedua pihak juga diperkirakan akan menandatangani sejumlah kesepakatan, mulai dari pembelian produk pertanian hingga pesawat Boeing. Delegasi bisnis AS diperkirakan turut mendampingi Trump dalam kunjungan tersebut, termasuk Chief Executive Officer Blackstone Steve Schwarzman dan CEO Citigroup Jane Fraser, menurut sumber yang mengetahui rencana itu.

(bbn)

No more pages