Logo Bloomberg Technoz

Saham global telah menghapus kerugian akibat perang dan kembali mencetak rekor tertinggi karena investor bertaruh belanja besar-besaran di sektor AI akan meningkatkan keuntungan korporasi. Saham Asia turut terdorong oleh aksi beli pada perusahaan pembuat chip yang dianggap sebagai “alat utama” dalam rantai pasok AI. Pergerakan yang relatif terbatas di luar sektor teknologi juga menunjukkan pasar mulai memperhitungkan kemungkinan meredanya konflik di Timur Tengah, meski jalannya diperkirakan tidak mulus.

“Laba perusahaan menjadi pendorong utama pasar sejak investor mulai meninggalkan kepanikan puncak akibat perang,” kata Anna Wu. “Kami melihat pasar mulai mengabaikan volatilitas perang saat ini, selama tidak ada eskalasi besar.”

Iran disebut menawarkan pemindahan sebagian cadangan uranium yang diperkaya tinggi ke negara ketiga sebagai respons terhadap proposal AS sebelumnya untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung 10 pekan. Namun, Teheran menolak pembongkaran fasilitas nuklirnya, menurut laporan Wall Street Journal. Iran membantah laporan tersebut melalui kantor berita semi-resmi Tasnim. Trump menyebut respons Iran sebagai “SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA”.

Di berbagai pasar, strategi investasi berbasis momentum—yakni memborong aset yang tengah mencatat kenaikan—menjadi tren dominan. Obligasi berisiko tinggi dan aset kripto juga ikut terdorong.

Strategis Barclays menilai tren tersebut telah mencapai level ekstrem yang secara historis sering mendahului aksi jual besar. Sementara itu, meja perdagangan Goldman Sachs pekan lalu menulis bahwa valuasi saham-saham dengan momentum tinggi sudah terlalu mahal dan posisi investor berada di salah satu level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir berdasarkan data prime brokerage.

Selain isu perang, pelaku pasar pekan ini juga menyoroti rencana pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping serta data inflasi AS yang akan memberi petunjuk arah suku bunga ke depan.

“Pelaku pasar sebelumnya berharap setidaknya ada kesepakatan sementara menjelang kunjungan Trump ke Beijing, namun kini tampaknya kita justru menghadapi kenaikan harga minyak lebih lanjut,” kata analis senior ITC Markets di Sydney, Sean Callow.

Di pasar mata uang, poundsterling melemah menjelang pidato Perdana Menteri Inggris Keir Starmer yang berupaya meredam tekanan terhadap posisinya. Starmer akan memaparkan rencana membangkitkan kembali dukungan terhadap partai pemerintah, termasuk komitmen mendekatkan Inggris ke Uni Eropa satu dekade setelah referendum Brexit.

“Tekanan agar Starmer mundur semakin meningkat,” tulis Kepala Strategi Pasar Global Brown Brothers Harriman, Elias Haddad, dalam catatan kepada klien. “Meski begitu, risiko Partai Buruh bergerak lebih jauh ke kiri telah berkurang, yang mendukung penguatan pound sterling dan obligasi pemerintah Inggris.”

Sementara itu, data terbaru inflasi konsumen yang akan dirilis pekan ini diperkirakan kembali menegaskan bahwa inflasi masih menjadi ancaman di AS. Ekonom memperkirakan indeks harga konsumen (IHK) April naik 0,6%, berdasarkan median survei Bloomberg. Angka itu mengikuti kenaikan bulanan terbesar sejak 2022 pada Maret. Laporan Biro Statistik Tenaga Kerja AS dijadwalkan terbit Selasa.

Dalam laporan Jumat lalu, jumlah tenaga kerja nonpertanian AS pada April bertambah 115 ribu setelah lonjakan lebih besar pada Maret, menandai kenaikan dua bulan terkuat sejak 2024 menurut data Biro Statistik Tenaga Kerja. Tingkat pengangguran tetap di level 4,3%.

Meski demikian, Federal Reserve diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga untuk sementara waktu sambil menunggu dampak lonjakan harga minyak mereda. Pasar uang masih memperkirakan bank sentral AS tidak akan mengubah suku bunga tahun ini.

“Apa yang perlu dilihat pelaku pasar adalah apakah tema-tema pekan lalu masih berlanjut di pekan ini, dan sejauh ini dinamika itu tampaknya belum berubah,” tulis Kepala Riset Pepperstone Group, Chris Weston.

Beberapa pergerakan utama di pasar:
Saham:

  • Kontrak berjangka S&P 500 turun 0,1% pada pukul 09.44 waktu Tokyo.
  • Kontrak berjangka Hang Seng relatif tidak berubah.
  • Indeks Topix Jepang naik 0,9%.
  • Indeks S&P/ASX 200 Australia turun 0,9%.
  • Kontrak berjangka Euro Stoxx 50 relatif stagnan.

Mata uang:

  • Indeks Bloomberg Dollar Spot relatif tidak berubah.
  • Euro turun 0,1% menjadi US$1,1770.
  • Yen Jepang melemah 0,2% menjadi 156,96 per dolar AS.
  • Yuan offshore relatif stabil di level 6,7926 per dolar AS.
  • Dolar Australia turun 0,1% menjadi US$0,7237.

Kripto:

  • Bitcoin naik 1,1% menjadi US$81.611,01.
  • Ether naik 1,2% menjadi US$2.355,44.

Obligasi:

  • Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik tiga basis poin menjadi 4,39%.
  • Imbal hasil obligasi Australia tenor 10 tahun relatif stabil di 4,99%.

Komoditas:

  • Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 3,8% menjadi US$99,09 per barel.
  • Harga emas spot turun 0,6% menjadi US$4.689,30 per ons.

Artikel ini dibuat dengan bantuan Bloomberg Automation.

(bbn)

No more pages