Di sisi lain, kabar kurang menggembirakan datang dari sektor riil. Indeks PMI Manufaktur Indonesia versi S&P Global tercatat di 49,1, di bawah 50 artinya sektor industri kembali masuk ke fase kontraksi, setelah sempat berada di zona ekspansi pada Maret. Aktivitas manufaktur Indonesia ini menjadi yang terendah sejak Juni tahun lalu.
Capaian indeks ini mengindikasikan permintaan domestik yang belum solid. Hal ini turut menekan sentimen terhadap rupiah. Kekhawatiran pasar terhadap keberlanjutan pembiayaan eksternal dan stabilitas fiskal di tengah tekanan global juga memperbesar premi risiko aset domestik.
Dari kawasan, belum banyak pergerakan mata uang di pasar yang sudah buka. Hanya yen Jepang menguat terbatas 0,02%, disusul dolar Singapura 0,01%. Sebaliknya, dolar Hong Kong tergerus tipis 0,01% pada 06.50 WIB.
Di pasar spot hari ini, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlanjut dengan kecenderungan bergerak di kisaran Rp17.350-Rp17.450/US$. Selama indeks dolar bertahan kuat dan harga minyak tetap tinggi, ruang penguatan rupiah menjadi terbatas.
Memang, Bank Indonesia akan tetap melakukan intervensi yang intensif di pasar, dan hanya mampu menahan volatilitasnya saja. Namun, tanpa katalis positif yang signifikan dari sisi global maupun domestik, rupiah kemungkinan masih akan diperdagangkan dalam bias melemah.
Analisis Teknikal
Secara teknikal nilai rupiah berpotensi melanjutkan tren pelemahan hari ini. Adapun rupiah berpotensi melemah menembus support pada level Rp17.400/US$, support selanjutnya bisa menuju Rp17.450/US$ usai break trendline sebelumnya.
Teknikal rupiah juga memperlihatkan level Rp17.500/US$ sebagai level paling pesimistis pelemahan rupiah dalam time frame daily, tren bearish jangka pendek (short-term).
Sebaliknya nilai rupiah memiliki level resistance terdekat pada level Rp17.350/US$. Apabila level ini berhasil tembus, maka mengonfirmasi resistance selanjutnya pada level Rp17.300/US$ sebagai resistance potensial.
(riset/aji)





























