Di sisi lain, tekanan harga yang meningkat secara signifikan pada kuartal I-2026 tercermin pada inflasi umum melampaui kisaran target Bank Indonesia (BI), dengan level terakhir 3,47%yoy pada Maret.
Lonjakan itu utamanya didorong oleh efek basis rendah (low-base effect) subsidi tarif listrik. Namun, aktivitas investasi pada kuartal I-2026 mencapai Rp498,7 triliun, setara 24,4% dari target tahunan dan tumbuh 7,2% yoy.
Neraca perdagangan juga tetap melanjutkan tren surplus selama 70 bulan pada Februari 2026. Namun, secara jangka menengah, prospek perekonomian nasional dinilai membutuhkan kehati-hatian.
Proyeksi Ekonomi Sepanjang 2026
Sepanjang 2026, LPEM UI memperkirakan perekonomian nasional akan mencetak pertumbuhan sebesar 5,15% dengan kisaran estimasi 5,1% hingga 5,2%.
Di sisi lain, LPEM UI menyoroti kinerja perekonomian nasional masih akan dipengaruhi oleh tekanan konflik Timur Tengah. Berlanjutnya fragmentasi geopolitik, khususnya yang bersumber dari meningkatnya ketegangan perdagangan global dan ketidakpastian tarif, menimbulkan risiko penurunan bagi sektor-sektor berorientasi ekspor dan kepercayaan investor.
“Secara domestik, tren memburuknya keseimbangan fiskal, yang diperparah oleh tekanan kenaikan harga minyak terhadap beban subsidi, tetap menjadi kerentanan utama,” ujarnya.
Pemerintah direkomendasikan untuk merealokasi belanja ke pos yang lebih produktif dan bisa mendorong iklim usaha dan investasi, mendorong sektor keuangan untuk mempertahankan ekspansi kredit tanpa memberikan tekanan terhadap kualitas aset, serta menjaga daya beli masyarakat secara berkelanjutan di tengah tekanan harga energi.
“Tanpa perbaikan yang berarti pada aspek-aspek tersebut, pertumbuhan berisiko untuk tetap bertahan di batas bawah kisaran 5%,” paparnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 dapat mencapai 5,5% hingga 5,7% karena ditopang oleh sejumlah data perekonomian khususnya sektor konsumsi yang menunjukan peningkatan.
Bendahara negara menyebut survei konsumen, survei Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia hingga pembelian motor dan mobil menunjukkan angka cemerlang.
“Kalau itu enggak naik, saya [juga] enggak bisa bilang naik. Dan saya tanya orang di luar, yang katanya orang luar pemerintah, ahli prediksi, ‘5,7% bisa?’ Ah bagus. Menurut saya di atas 5,5% sudah bagus dalam keadaan sekarang ya,” kata Purbaya ditemui di Kantor Kemenkeu, Jumat (27/3/2026).
“Jadi bukan saya optimis, saya melihat data. Dan saya tahu apa yang saya masukkan ke sistem perekonomian supaya ekonominya bergerak. Data-data itu adalah dampak dari kebijakan di belakang,” tambahnya.
Dia menjelaskan hingga saat ini pemerintah juga memastikan likuiditas sistem perekonomian cukup seperti belanja pemerintah yang dilakukan tepat waktu.
Diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data pertumbuhan ekonomi pada esok hari, Selasa (4/5/206).
(lav)






























