Perkiraan inflasi kuartal kedua tahun 2026 juga naik menjadi 3,2% dari sebelumnya 2,79%, sementara Produk Domestik Bruto (PDB) akan melambat jadi 5% dari capaian sebelumnya 5,08%.
Di tengah kondisi ini, Ekonom Australia and New Zealand Banking (ANZ) Krystal Tan memprediksi bahwa Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin sebanyak dua kali.
Sehingga suku bunga kebijakan akan mencapai 5,25% pada akhir tahun ini di tengah tekanan mata uang yang terus berlanjut dan inflasi yang lebih tinggi.
Secara terpisah, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian menilai langkah hawkish The Fed ini semakin mempertegas bahwa kebijakan global bergeser menjadi cenderung reaktif terhadap realisasi inflasi dan risiko aktual, alih-alih lebih mengandalkan padangan ke depan (forward-looking).
Oleh karena itu, Fakhrul menilai BI perlu mulai menunjukkan tightening bias yang lebih kuat sebagai bagian dari upaya menjaga kredibilitas dan meredam tekanan eksternal.
“Respons hawkish dari Bank Indonesia menjadi penting, bukan hanya untuk menahan tekanan nilai tukar, tetapi juga untuk mengelola ekspektasi pasar. Ini bukan soal mengejar The Fed, tetapi soal menjaga kepercayaan terhadap stabilitas domestik,” katanya.
Di sisi lain, tekanan terhadap fiskal juga perlu mendapat perhatian lebih. Fakhrul menyoroti pentingnya kepastian arah APBN, termasuk penyesuaian terhadap program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menilai bahwa langkah rasionalisasi dan kalibrasi belanja yang mulai dilakukan pemerintah merupakan sinyal positif bagi pasar," sebut Fakhrul.
Jika pemerintah melakukan penyesuaian anggaran, termasuk program MBG, pasar akan merespons positif sebab artinya pemerintah menunjukkan respons terhadap dinamika fiskal dan tidak terjebak dalam kebijakan yang kaku di tengah tekanan eksternal saat ini.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pasar saat ini membutuhkan kejelasan terkait target fiskal dan strategi pembiayaan, terutama dalam konteks potensi tekanan dari harga energi dan kebutuhan belanja domestik.
“Kepastian target APBN menjadi kunci. Pasar harus melihat bahwa pemerintah memiliki ruang dan fleksibilitas untuk melakukan penyesuaian tanpa mengorbankan disiplin fiskal. Ini akan menjadi jangkar utama kepercayaan investor,” katanya.
Senada, menurut Kepala Ekonom Josua Pardede berbagai langkah intervensi BI yang menahan pelemahan agar tidak makin liar, belum cukup kuat untuk membalikkan arah rupiah secara berkelanjutan.
"Dari sisi domestik, katalis penguatan perlu datang dari arus masuk asing yang lebih besar ke SBN dan SRBI, komunikasi fiskal yang kredibel, kepastian bahwa subsidi energi terkendali, serta masuknya devisa hasil ekspor ke sistem keuangan domestik," kata Josua.
Tanpa kombinasi itu, penguatan rupiah kemungkinan hanya bersifat sementara, teknis dan mudah berbalik arah kembali.
(dsp/aji)




























