Logo Bloomberg Technoz

“Dengan rupiah yang kini berada di sekitar Rp17.300/US$, jarak terhadap nilai wajar praktis sudah melebar menjadi sekitar 5–8%,” ungkapnya. 

Dia juga menerangkan rupiah yang undervalued tidak otomatis bisa langsung menguat lantaran pasar saat ini tidak hanya melihat fundamental, tetapi juga risiko.

Tekanan terbesar datang dari harga minyak yang kembali tinggi, ketidakpastian perang Timur Tengah, penutupan atau gangguan Selat Hormuz, dan penguatan permintaan terhadap dolar. 

“Rupiah menyentuh level terendah baru ketika Brent diperdagangkan dekat US$111/barel–US$112/barel dan mata uang negara pengimpor minyak Asia ikut tertekan,” ujarnya.

“Ini penting untuk Indonesia karena Indonesia adalah pengimpor bersih migas. Ketika minyak naik, kebutuhan dolar untuk impor energi meningkat, beban subsidi dan kompensasi energi membesar, dan pasar mulai menghitung risiko pelebaran defisit transaksi berjalan serta defisit APBN,” jelas dia. 

Diketahui, rupiah spot hari ini, Kamis (30/4/2026), terdepresiasi 0,36% ke Rp17.353/US$. Mata uang Ibu Pertiwi pun menghuni posisi terlemah sepanjang masa.

Pergerakan mata uang kawasan juga cukup beragam, menandai tingkat sensitivitasnya masing-masing terhadap sentimen eksternal yakni lonjakan harga minyak mentah yang menyebabkan inflasi semakin melambung. 

Dari kawasan Asia, pelemahan datang dari ringgit Malaysia dan baht Thailand. Sebaliknya, won Korea Selatan berhasil rebound bersama yen Jepang, dolar Singapura, yuan offshore dan dolar Hong Kong. Rupiah masih menjadi yang terlemah di Benua Kuning.

(mfd/ell)

No more pages