Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Tembus Rp17.323/US$, Analis Soroti Kebijakan Pemerintah

Mis Fransiska Dewi
29 April 2026 14:10

Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)
Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Analis berpandangan sejumlah kebijakan pemerintah turut menjadi sentimen pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) siang ini. Rupiah kembali melemah dan tergerus 0,6% ke posisi Rp17.325/US$. 

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata menilai, pelemahan rupiah sejatinya tidak sepenuhnya bisa dijelaskan oleh penguatan dolar secara global. Indeks Dolar AS (DXY) relatif bergerak stabil sehingga tekanan terhadap rupiah tampak lebih mencerminkan faktor domestik. 

“Dalam konteks ini, perlu ada evaluasi terhadap bauran kebijakan pemerintah dan otoritas moneter,” kata Liza saat dihubungi, Rabu (29/4/2026). 


Menurut dia, tren kenaikan harga minyak global yang tembus lebih dari US$100/barel  juga akan menambah tekanan terhadap fiskal. Kemudian persoalan harga dan waktu tiba impor minyak dari Rusia dapat mengamankan suplai bahan bakar minyak (BBM) di Tanah Air juga belum jelas kabarnya. 

Kondisi tersebut, kata dia, menimbulkan pertanyaan mengenai prioritas anggaran, khususnya terkait program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan keberlanjutan subsidi energi, mengingat hingga saat ini harga BBM subsidi masih belum disesuaikan.