Logo Bloomberg Technoz

Pelemahan mata uang kawasan menggiring investor pada sikap hati-hati penuh kewaspadaan, khususnya pada aset di pasar negara berkembang. 

Pasar saham kawasan Asia tercatat membukukan arus keluar dana sepanjang April. Di pasar Indonesia, secara month-to-date, investor asing telah meninggalkan pasar saham domestik US$835,6 juta, sementara di Filipina investor sell out US$207,2 juta, dan Thailand US$149,4 juta. 

Begitu juga di pasar obligasi Asia aksi jual masih berlanjut meski tidak semasif di pasar saham. Investor telah melepas obligasi India US$812,2 sejak awal bulan, disusul Filipina US$1.169,5 juta. 

Sebaliknya, pasar obligasi negara lain relatif lebih stabil dan masih membukukan arus modal masuk. Salah satunya Indonesia yang masih mencatatkan arus modal masuk US$299,8 juta per 24 April lalu, dan Malaysia US$536,8 juta per 21 April 2026. 

Dalam kondisi penuh tekanan, pergerakan mata uang Asia khususnya bagi negara dengan tingkat ketergantungan impor minyak semakin terbatas. Seperti peso, baht, rupee dan rupiah. 

Bagi Indonesia, kondisi ini diperparah oleh potensi melebarnya defisit fiskal. Kondisi ini juga terlihat dari profil utang jatuh tempo 2026 yang memperlihatkan bahwa sekitar Rp154,5 triliun berasal dari SBN hasil skema burden sharing.

Beban ini bahkan diperkirakan meningkat menjadi Rp210,5 triliun pada 2027, dan memberi sinyal bahwa tekanan likuiditas fiskal bukan hanya terjadi sesaat, melainkan berpotensi berlanjut dalam horizon yang lebih panjang.

Besarnya kebutuhan refinancing tersebut membuka kerentanan yang cukup tajam terhadap dinamika pasar keuangan. Ketika jatuh tempo bertepatan dengan fase risk-off atau tren kenaikan suku bunga global, ruang gerak pemerintah menjadi semakin sempit. Opsi yang tersedia pada akhirnya adalah melakukan rollover utang dengan biaya yang lebih tinggi

Kemarin, pemerintah berhasil meraup Rp40 triliun dalam lelang Surat Utang Negara (SUN). Meski begitu, imbal hasil (yield) dari seri yang dimenangkan cenderung naik. 

Seperti yang terjadi pada seri FR0109 tenor 5 tahun, yang mengalami kenaikan imbal hasil dari 6,27% menjadi 6,64%, naik sekitar 36 basis poin (bps).

Hal ini mengindikasikan bahwa investor mulai menuntut premi risiko lebih tinggi, bahkan untuk tenor yang sebelumnya paling likuid.

(dsp/aji)

No more pages