Logo Bloomberg Technoz

Ketidakpastian Masih Menekan Rupiah dan Aset Berisiko di Asia

Tim Riset Bloomberg Technoz
28 April 2026 15:38

Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)
Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menutup perdagangan hari ini dengan depresiasi, bersama dengan hampir semua mata uang di kawasan. 

Pada Selasa (28/4/2026), rupiah melemah 0,17% dan dibanderol Rp17.225/US$. Ketidakpastian sinyal perdamaian antara AS dan Iran memperkuat posisi greenback sebagai safe haven. Indeks dolar AS sore ini tercatat kembali naik ke 98,69. 

Sementara itu, harga minyak Brent kembali melambung 2,87% ke US$111,34 per barel. Kenaikan harga minyak ini menyebabkan mayoritas mata uang Asia berada di zona merah. 


Hanya won Korea Selatan, dan dolar Hong Kong yang tercatat defensif dengan penguatan terbatas. 

Pergerakan mata uang kawasan Asia, pada Selasa sore (28/4/2026). (Bloomberg)

Kala sentimen risk-off menguat, investor mulai melepas instrumen yang berisiko tinggi. Investor global terlihat melepas instrumen saham di pasar negara berkembang dan mengakumulasi surat utang yang cenderung memberi kepastian imbal hasil.