Angka ini kata Juda juga lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar 17,1% dengan pertumbuhan 1,4%.
Sementara itu, pendapatan negara yang mencakup pajak, penerimaan negara bukan pajak (PNBP), dan cukai tumbuh 10,5%. Dengan kombinasi tersebut, defisit anggaran pada kuartal I-2026 tercatat sebesar 0,93% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Juda menegaskan, lonjakan belanja negara pada awal tahun merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk mengubah pola pengeluaran. Jika sebelumnya belanja cenderung menumpuk di kuartal IV, kini pemerintah berupaya meratakannya sepanjang tahun.
Targetnya, penyerapan belanja mencapai sekitar 21% pada kuartal I, lalu meningkat menjadi 26% pada kuartal II, III, dan IV.
"Jadi ini memang tujuannya agar pertumbuhan ekonomi itu merata, cepat dan terjadi di tahun yang sama. Jadi memang ada perubahan dari pola konsumsi pemerintah," jelasnya.
Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah ketidakpastian global.
Ia menyebut probabilitas resesi Indonesia berada di bawah 5%, lebih rendah dibandingkan negara seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Kanada.
"Fundamental kita tetap terjaga, pertumbuhan ekonomi bercatat di tahun lalu 5,11%, di tahun 2026 ditargetkan 5,4%, dan di Q1 mungkin kita lihat bisa mencapai lebih besar atau sama dengan 5,5%," tutur Airlangga.
Selain itu, inflasi masih terjaga di kisaran 3,48%, indeks keyakinan konsumen berada di level tinggi 122,9, serta neraca perdagangan mencatat surplus selama 70 bulan berturut-turut.
Proyeksi Bank Indonesia
Di sisi lain, secara full year, bank sentral RI yakni Bank Indonesia memproyeksikan capaian target pertumbuhan ekonomi pada 2026 sebesar 5,4%.
Sejalan dengan proyeksinya tersebut, Gubernur BI Perry Warjiyo menekankan pentingnya penguatan sinergi kebijakan untuk menjaga momentum pertumbuhan.
Perry berujar dari sisi kebijakan, Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan, mulai dari kebijakan moneter yang diarahkan untuk menjaga stabilitas dan ketahanan eksternal, kebijakan makroprudensial guna mendukung pembiayaan dan intermediasi perbankan.
Hingga kebijakan sistem pembayaran untuk mendorong percepatan ekonomi dan keuangan digital sebagai motor pertumbuhan baru.
"Oleh karena itu, melalui forum ini mari kita tingkatkan OKS. Optimisme bahwa ekonomi kita akan terus berdaya tahan untuk terus maju dan tumbuh tinggi," kata Perry.
"Mari kita perkuat komitmen, komitmen masing-masing tugas kita tapi juga komitmen untuk kita memberikan yang terbaik bagi negeri dan tentu saja adalah sinergi, memperkuat sinergi dalam kita mendorong bersama [ekonomi kita]," pungkasnya.
(prc/ell)



























