Logo Bloomberg Technoz

Ekspektasi terhadap peningkatan permintaan membuat harga batu bara masih relatif mahal. Perang menyebabkan Selat Hormuz ditutup, sehingga arus pelayaran komersial tersendat. Macet total, tidak ada pergerakan berarti.

Salah satu komoditas yang terdampak akibat hal ini adalah gas alam cair alias LNG. Sekitar 20% perdagangan LNG dunia transit di Selat Hormuz setiap tahunnya.

Alhasil, dunia dilanda keketatan pasokan LNG. Ini membuat batu bara kembali dilirik, terutama sebagai sumber energi pembangkit listrik.

Analisis Teknikal

Jadi bagaimana perkiraan harga batu bara untuk pekan depan? Apakah bisa bangkit atau justru makin terjepit?

Secara teknikal dengan perspektif mingguan (weekly time frame), batu bara mantap di zona bullish. Terbukti dengan Relative Strength Index (RSI) 14 hari ini yang sebesar 71.

RSI di atas 50 menunjukkan suatu aset sedang dalam posisi bullish. Bahkan RSI batu bara sudah di atas 70, yang berarti tergolong jenuh beli (overbought).

Sementara indikator Stochastic RSI 14 hari ada di 60. Berada di area beli (long) yang kuat.

Untuk perdagangan minggu depan, harga batu bara sepertinya akan menghadapi ujian pivot point US$ 133/ton. Jika berhasil dilewati, maka US$ 135/ton yang menjadi Moving Average (MA) 5 bisa menjadi target resisten terdekat.

Apabila kembali tertembus, maka harga batu bara berpotensi menguji level US$ 136-138/ton.

Adapun target support terdekat adalah US$ 129/ton. Penembusan di titik ini berisiko memangkas harga batu bara ke rentang S$ 127-120/ton.

(aji)

No more pages