Logo Bloomberg Technoz

Sebaliknya, peso Filipina melemah tajam 0,46%, disusul baht Thailand 0,33%, won Korea Selatan 0,10%, dan ringgit Malaysia 0,09%. Sementara dolar Singapura tercatat stagnan. 

Pergerakan mata uang Asia. Rupiah melemah paling dalam (23/4/2026). (Bloomberg)

Perang yang masih jauh dari kata damai, terus menggempur pasar energi dan menyebabkan gangguan pasokan. Selat Hormuz kembali tertutup dan menyebabkan penurunan tajam arus pasokan dari produsen di Teluk Persia. 

Kondisi ini membuat pasar keuangan Asia kembali keok. Bursa saham juga melemah. Indeks Nikkei turun 0,53%, indeks KOSDAQ juga menyusut 0,19%, Topix 0,89%, indeks FTSE Straits Tim juga menyusut 0,83%, HangSeng 0,85%. Meski IHSG hanya melemah terbatas 0,03%. 

Di pasar surat utang, aksi jual masih berlanjut sejak kemarin. Kenaikan imbal hasil merata terjadi di hampir semua tenor.

Untuk tenor pendek seperti 1 tahun imbal hasil naik 2,5 bps ke 5,68%, disusul tenor 3 tahun naik 1,8 bps ke 6,12%. Imbal hasil tenor 5 tahun dan 6 tahun juga tercatat naik masing-masing 1,1 bps ke 6,37% dan 0,5 bps ke 6,43%. 

Begitu juga dengan tenor acuan 10 tahun mengalami perubahan imbal hasil naik 0,4 bps menjadi 6,61%. 

Dari dalam negeri upaya meredam gejolak nilai tukar sepertinya belum cukup bertaji. Di tengah badai tekanan eksternal ini, Bank Indonesia (BI) menyebbut akan mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter. 

"Terkait dengan penguatan untuk operasi moneter kami melalui intervensi penguatan khususnya untuk yang NDF di offshore market, akan ada pengecualian bagi bank khususnya untuk dealer utama, sehingga mereka bisa menjual NDF secara langsung," ujar Destry Damayanti Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), kemarin.

Selain itu, BI juga sepertinya semakin mengandalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) di tengah ketidakpastian geopolitik, sebagai alat untuk menyerap likuiditas rupiah sekaligus mendukung stabilisasi nilai tukar.

"Sejak Februari secara bertahap terus melakukan penyesuaian pada suku bunga SRBI sehingga jadi instrumen yang memiliki daya tarik terhadap foreign inflow," kata Destry.

Memang pasar SRBI belakangan ini mendapat animo dari para investor karena tingkat imbal hasil yang tinggi. Melansir data Bloomberg, imbal hasil (yield) SRBI naik mencapai level tertingginya sejak Juli tahun lalu dan menyentuh 5,76% untuk tenor 12 bulan.

(dsp/aji)

No more pages