Logo Bloomberg Technoz

Harga emas sejatinya mendapat sedikit sokongan dari perkembangan di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut gencatan senjata dengan Iran yang dimulai sejak 7 April akan terus berlaku tanpa batas waktu yang ditentukan.

Hal ini memang melegakan. Akan tetapi, harga emas belum bisa bergerak ke utara karena pelaku pasar masih menyimpan keraguan.

Sebab, Trump menyebut bahwa Washington menunggu proposal damai terbaru dari Iran. Akan tetapi, Teheran menegaskan belum berkenan ikut serta dalam negosiasi dalam waktu dekat.

Saat ini Selat Hormuz masih ditutup. AS pun masih melakukan blokade terhadap kapal yang masuk dan keluar Iran.

Perkembangan ini membuat harga minyak mentah kembali naik. Kemarin, harga minyak jenis brent melejit 3,48% ke US$ 101,91/barel, tertinggi sejak 7 April atau lebih dari dua minggu terakhir.

Harga minyak yang melambung akan membuat dunia terancam mengalami inflasi tinggi. Alhasil, bank sentral di berbagai negara akan kesulitan untuk melonggarkan kebijakan moneter melalui penurunan suku bunga acuan. 

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga masih tinggi.

(aji)

No more pages