Logo Bloomberg Technoz

Namun kini ada harapan perang akan segera berakhir. Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz sudah dibuka sepenuhnya untuk pelayaran komersial. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pun menyebut perang dengan Negeri Persia akan segera rampung.

Damai di Timur Tengah membuat harga energi ikut melunak. Kemarin, harga minyak jenis brent ambruk 7,57% ke US$ 91,87/barel, terendah sejak 10 Maret atau lebih dari sebulan terakhir.

Sementara harga gas di pasar TTF (Belanda) ambrol 6,53% ke EUR 39,65/MWh. Ini menjadi yang terendah sejak perang AS-Israel versus Iran meletus pada akhir Februari lalu.

Alhasil, harga batu bara ikut terdampak. Saat harga minyak dan gas lebih murah, maka keuntungan untuk beralih ke batu bara menjadi berkurang.

Analisis Teknikal

Jadi bagaimana ‘ramalan’ harga batu bara untuk pekan depan? Apakah bakal turun lagi atau bisa bangkit berdiri?

Secara teknikal dengan perspektif mingguan (weekly time frame), batu bara masih nyaman di zona bullish. Terbukti dengan Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 70. Namun ini adalah ambang batas jenuh beli (overbought) sehingga investor perlu hati-hati.

Sedangkan indikator Stochastic RSI 14 hari ada di 56. Menghuni area beli (long) tetapi belum terlampau kuat.

Untuk perdagangan minggu depan, harga batu bara memiliki pivot point di US$ 136/ton. Jika tertembus, maka US$ 137/ton bisa menjadi target resisten terdekat.

Target paling optimistis atau resisten terjauh ada di US$ 142/ton.

Namun kalau harga batu bara turun lagi, maka US$ 129/ton rasanya akan menjadi target support terdekat. Penembusan di titik ini berisiko memangkas harga ke kisaran US$ 126-119/ton.

(aji)

No more pages