Adapun, berdasarkan data Kementerian ESDM per Juli 2025, penggunaan PLTS atap di Indonesia mencapai 538,46 megawatt peak (MWp).
Direktur Aneka Energi Baru dan Terbarukan Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukkan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Andriah Feby Misna menjelaskan, total kapasitas terpasang PLTS atap tersebut tersebar pada 10.882 pelanggan PLN.
Sementara itu, pada Juni 2025 kapasitas terpasang PLTS atap tercatat sebesar 495 MWp yang terinstalasi untuk sekitar 10.700 pelanggan PLN.
Dengan begitu, secara bulanan realisasi penggunaan PLTS atap tumbuh 8,78% per Juli 2025 menjadi 538,46 MWp dan jumlah pelanggannya tumbuh 1,7% secara bulanan menjadi 10.882 pelanggan.
Dalam bahan paparannya, dijelaskan bahwa hingga 2028 pemerintah menargetkan kapasitas terpasang PLTS atap bisa mencapai 2 GW di seluruh Indonesia.
Perinciannya, pemerintah menargetkan 95 MW di Sumatra, 104 MW di Kalimantan, 1,85 GW di Jawa, Madura, Bali (Jamali), 17 MW di Sulawesi, serta 7 MW di Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara (Mapana).
Sekadar catatan, penutupan Selat Hormuz gegara perang AS-Israel dengan Iran menyebabkan harga bahan bakar fosil melonjak tinggi. Harga minyak mentah bahkan sempat berada di atas US$100 per barel.
Di tengah kondisi tersebut, permintaan panel surya pada perusahaan Malaysia dilaporkan melonjak. Perusahaan Malaysia, Solarvest Holdings Bhd, berupaya mempercepat penyelesaian proyek-proyek skala besarnya guna memenuhi lonjakan permintaan energi terbarukan.
“Jika sebuah proyek membutuhkan waktu 18 hingga 24 bulan untuk diselesaikan, kami perlu berdiskusi dengan regulator mengenai bagaimana kami dapat mengeksekusinya lebih cepat, mungkin menjadi 12 hingga 16 bulan,” kata CEO Solarvest, Davis Chong, dalam wawancara dengan Bloomberg News, pekan ini.
Perusahaan akan menambah sekitar 1,3 gigawatt kapasitas tenaga surya pada 2026 dan setidaknya 5 gigawatt lagi hingga 2028, menurut informasi di situs jejaring Solarvest. Perusahaan berencana mengimplementasikan proyek-proyek surya berskala besar untuk operator jaringan Tenaga Nasional Bhd mulai tahun depan.
Perusahaan meluncurkan dua proyek tenaga surya berskala besar bersama Tenaga pada Selasa di bawah program kemitraan perusahaan. Proyek-proyek ini akan memasok listrik ke pabrik Micron Technology Inc di Penang dan Muar, serta divisi pusat data NTT Inc dan operasi lokal Texas Instruments Inc.
Chong memperkirakan tagihan energi berbasis bahan bakar fosil untuk industri akan terus meningkat pada paruh kedua tahun ini, yang akan meningkatkan minat terhadap tenaga surya.
Harga panel surya dan baterai diperkirakan tetap stabil hingga turun selama periode yang sama, karena rute pasokan dari China tidak langsung terdampak oleh perang, katanya.
Harga panel saat ini sekitar US$0,11 per watt, sementara harga baterai sekitar US$100 per kilowatt-jam, tetapi “cepat mengejar” harga di China yang berkisar antara US$60 hingga US$80, kata Chong.
Pimpinan perusahaan pengembang tenaga surya Malaysia lainnya mengatakan bahwa permintaan telah meningkat setidaknya 40% pada April, didorong oleh perusahaan pusat data dan rantai pasokan semikonduktor yang ingin membangun kapasitas tenaga surya.
“Bagi industri kami, semakin tinggi biaya energi, semakin cepat pengembalian investasi, sehingga semakin masuk akal secara finansial,” kata Cliff Siaw, CEO Progressture Power Sdn.
(azr/wdh)































