Namun saat ini, faktor risiko domestik terus membayangi pasar. Dari dalam negeri sejumlah tekanan masih membebani pergerakan rupiah. Sebanyak 9.000 tenaga kerja di industri manufaktur (tekstil dan suku cadangan otomotif) terancam pengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Kondisi ini terjadi di tengah kekhawatiran pasar terkait kondisi fiskal yang belum sepenuhnya reda. Di sisi lain, lembaga pemeringkat S&P menilai Indonesia menjadi negara paling rentan mengalami penurunan peringkat (rating) di Asia tenggara jika perang terjadi secara berkepanjangan.
Di tengah tekanan ini, cadangan devisa telah terkuras US$8,23 miliar sepanjang kuartal I-2026. Hal ini membuat otoritas moneter mencari cara stabilitas lainnya, salah satunya dengan mengintensifkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
(dsp/aji)





























