Rupiah di Luar Negeri Terimbas Isu Domestik
Tim Riset Bloomberg Technoz
17 April 2026 08:11

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai kontrak rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) pada Jumat (17/4/2026) stagnan di posisi Rp17.170/US$ seperti penutupan kemarin. Pergerakan mata uang Garuda di pasar offshore pekan ini masih defensif di rentang Rp17.129/US$ hingga Rp17.192/US$.
Padahal indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama (euro, yen, poundsterling, krona Swedia, franc dan dolar Kanada), juga tak begitu garang. Hari ini indeks dolar masih melanjutkan pelemahannya di hari kelima pada posisi 98,2, di tengah harga minyak mentah Brent yang mulai kembali turun ke US$98,06 per barel.
Di kawasan, pergerakan mata uang Asia cukup beragam. Won Korea Selatan rebound terbatas 0,07%, disusul dolar Hong Kong 0,02%, yuan offshore dan dolar Singapura masing-masing dengan perubahan tipis 0,01%. Sebaliknya, baht Thailand terkoreksi 0,16% setelah kemarin menguat cukup signifikan, lalu ringgit Malaysia 0,1% dan yen Jepang 0,04%.
Mata uang Asia masih dibayangi oleh perang Timur Tengah. Saat ini, sejumlah pemimpin negara Arab di Teluk dan Eropa melihat bahwa kesepakatan damai antara AS dan Iran membutuhkan waktu, setidaknya enam bulan. Atas dasar itu, mereka mendesak kedua pihak untuk memperpanjang gencatan senjata selama periode negosiasi tersebut.
Selain itu, Selat Hormuz yang jadi jalur vital bagi perdagangan energi dunia belum sepenuhnya pulih. Melansir Bloomberg News, para pemimpin negara tersebut memperingatkan jika selat itu tetap tertutup hingga bulan depan, krisis pangan global bisa terjadi.


























