CPO adalah aset yang dibanderol dalam ringgit. Ketika ringgit terapresiasi, maka kontrak CPO menjadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain.
Harapan akan perdamaian di Timur Tengah juga menjadi sentimen negatif bagi harga CPO. AS dan Iran dikabarkan tengah bersiap untuk kembali ke meja perundingan, setelah dialog di Islamabad (Pakistan) akhir pekan lalu berakhir buntu.
Kabar ini membuat harga minyak bumi terkoreksi. Harga minyak jenis brent turun 0,16% ke 94,63/barel pada pukul 05:54 WIB pagi ini, Kamis (16/4/2026).
Saat harga minyak lebih murah, maka insentif untuk beralih ke bahan bakar nabati menjadi berkurang. Padahal CPO adalah salah satu komponen utama dalam pembuatan bahan bakar nabati.
Analisis Teknikal
Jadi bagaimana prediksi harga CPO untuk hari ini? Apakah bisa naik lagi atau malah kembali terkoreksi?
Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), CPO masih bergumul di zona bearish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 45. RSI di bawah 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bearish.
Namun indikator Stochastic RSI 14 hari sudah menyentuh 1. Jauh di bawah 20, yang berarti sangat jenuh jual (oversold).
Untuk perdagangan hari ini, harga CPO berpotensi naik. Target resisten terdekat ada di rentang MYR 4.566-4.572/ton.
Dari situ, harga CPO berpotensi melambung ke kisaran MYR 4.614-4.634/ton.
Namun andai harga CPO justru turun, maka MYR 4.449/ton sepertinya akan menjadi support terdekat. Dari sini, harga berisiko ambrol ke level MYR 4.390-4.345/ton.
(aji)




























