Dengan pertumbuhan ekonomi yang tetap solid didukung oleh permintaan domestik yang kuat, inflasi yang terjaga dalam sasaran, serta pemulihan intermediasi perbankan, Indonesia menunjukkan ketahanan yang konsisten di tengah tekanan eksternal.
BI juga menekankan bahwa respons kebijakan yang ditempuh tidak lagi bersifat konvensional, melainkan melalui bauran kebijakan yang terintegrasi dan adaptif, mengombinasikan kebijakan moneter yang berfokus pada stabilitas, kebijakan makroprudensial yang pro-pertumbuhan, serta penguatan sistem pembayaran untuk mendukung aktivitas ekonomi dan digitalisasi.
“Di tengah dinamika global yang semakin kompleks, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas melalui pengelolaan nilai tukar yang fleksibel namun terukur, penguatan instrumen moneter untuk menjaga daya tarik aset domestik, serta pengelolaan likuiditas yang hati-hati agar tetap mendukung pertumbuhan,” ujarnya.
Sinergi erat dengan pemerintah dalam menjaga disiplin fiskal, termasuk komitmen mempertahankan defisit di bawah 3% dari PDB serta realokasi belanja ke sektor produktif, turut memperkuat kredibilitas kebijakan nasional. Dalam jangka menengah, Indonesia juga menegaskan arah transformasi struktural menuju ekonomi bernilai tambah lebih tinggi melalui hilirisasi dan pengembangan sektor berbasis teknologi.
Sekadar catatan, dalam laporan yang dipublikasikan pada 14 April 2026, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 mencapai 5%. Angka ini lebih rendah ketimbang laporan IMF Januari lalu yang memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencatatkan kenaikan 5,1%.
IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5,1% pada 2027 mendatang.
Tak cuma Indonesia, IMF juga memproyeksi pertumbuhan ekonomi global yang melambat menjadi 3,1% pada 2026. Hal ini dikarenakan pecahnya perang di Timur Tengah tahun ini usai perekonomian sempat bertahan dengan ujian hambatan perdagangan tahun lalu.
(mfd/ell)





























