Saat ini, kata dia, perincian dari kerja sama tersebut masih dibahas oleh kedua perusahaan dan telah dimulai sekitar 2 bulan yang lalu.
Pabrik LTJ
Di sisi lain, Restu menyatakan perseroan dan Perminas bakal melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek pabrik LTJ pada 20 Mei 2026. Peresmian pembangunan tersebut rencananya bakal dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto.
“Kami lanjutkan kelanjutan dari program yang direncanakan oleh PT Timah dan Perminas ini yang kami laporkan saat ini 20 Mei nanti akan dilakukan groundbreaking itu fasilitas riset dan industri untuk REE,” ujar Restu.
Hingga saat ini, Restu menegaskan TINS sudah mulai mengumpulkan sisa hasil produksi timah dan menyiapkannya agar dapat dipasok ke Perminas.
Sebelumnya, PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) telah menyelesaikan riset pengembangan mineral kritis berupa pemanfaatan limbah timah menjadi LTJ.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Faudzan Adziman menyatakan riset tersebut berfokus pada pengolahan limbah timah yang mengandung LTJ berupa monasit.
Dia mengungkapkan monasit yang terkandung dalam limbah timah dapat diolah kembali menjadi mineral bernilai tinggi seperti torium, uranium, hingga neodimium.
“Jadi kita memang ingin mengambil bisnis bernilai tinggi jadi dari mulai hilirisasinya atau yang kita kejar sebetulnya yang limbah. Pengolahan limbah karena sebagian limbahnya mengandung monasit,” kata Fauzan dalam Sarasehan dan Sosialisasi Peraturan Pemerintah (PP) No. 40/2025 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN), awal Maret 2026.
Lebih lanjut, Fauzan mengungkapkan neodimium merupakan magnet yang sangat kuat dan bernilai tinggi. Dia membeberkan, LTJ tersebut dapat dipakai dalam baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).
Sementara itu, torium dan uranium akan dikembangkan agar dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).
Sekadar catatan, Direktur Pengembangan Usaha PT Timah Suhendra Yusuf Ratuprawiranegara menjelaskan PT Timah sejatinya telah memulai proyek percobaan ini sejak 2010.
Namun, persoalan teknologi hingga riset LTJ membuat Pilot Project di Tanjung Ular Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terkatung-katung selama lebih dari satu dekade.
Menurutnya, ada beberapa persyaratan yang belum terpenuhi oleh perusahaan dari sisi spesifikasi pasokan LTJ, salah satunya dari kandungan fosfat yang merupakan senyawa utama yang mengikat unsur tanah jarang di monasit.
"Ada persyaratan kalau tidak salah itu di 50 ppm [parts per million] terhadap kandungan dari fosfat itu, sementara yang dilakukan oleh PT Timah masih di atas itu, jadi tidak memenuhi syarat," kata Suhendra dalam media gathering di Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, Sabtu (23/8/2025) malam.
Terlepas dari masalah spesifikasi, Suhendra meyakini deposit monasit tetap berlimpah, selama pertambangan timah masih berlangsung di Indonesia, baik yang ditemukan dalam bentuk endapan primer maupun sekunder atau aluvial.
(azr/wdh)
































