Di sisi yang sama dengan IHSG, Bursa Asia lain berhasil melesat di jalur hijau, menyusul KOSDAQ (Korea), Shenzhen Comp. (China), Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), CSI 300 (China), TAIEX (Taiwan), dan Shanghai Composite (China) yang menguat masing–masing 0,57%, 0,54%, 0,51%, 0,21%, 0,11%, dan 0,06%.
Sementara lainnya masih melemah hingga tutup perdagangan. SENSEX (India), Hang Seng (Hong Kong), KOSPI (Korea Selatan), NIKKEI 225 (Tokyo), PSEI (Filipina), KLCI (Malaysia), TOPIX (Jepang), dan Straits Time (Singapura) yang masing–masing melemah 0,91%, 0,9%, 0,86%, 0,74%, 0,72%, 0,64%, 0,45%, dan 0,1%.
Sentimen pada perdagangan hari ini utamanya masih dari konflik Timur Tengah. Investor mempertimbangkan blokade oleh Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) terhadap pelabuhan di Iran setelah pembicaraan antara AS dan Iran gagal menghasilkan kesepakatan untuk menyudahi konflik di Timur Tengah.
Kegagalan negosiasi di Islamabad kembali memicu kegelisahan perang AS-Iran akan berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan.
“Prospek perang AS-Iran akan kembali intensif pasca kegagalan perundingan damai akan memicu volatilitas baru di pasar global dan menekan kinerja ekonomi global,” Phillip Sekuritas Indonesia dalam riset terbarunya, Senin.
Silang pendapat dilaporkan melebar melampaui masalah Iran menjadi tuntutan yang lebih luas seperti kendali atas Selat Hormuz, ganti rugi finansial atas pemboman oleh AS, dan penghentian serangan Israel ke Libanon.
Kenaikan kembali harga minyak mentah setelah negosiasi AS-Iran gagal mencapai kesepakatan dan Presiden AS Donald Trump mengumumkan Angkatan laut AS akan memblokade Selat Hormuz, jadi sentimen pemberat.
“Kegagalan negosiasi dan blokade Selat Hormuz oleh AS telah meredam harapan untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah dengan cepat serta berpotensi meningkatkan ketegangan geopolitik dan memicu guncangan energi secara global,” sebut Phintraco Sekuritas dalam catatannya.
(fad)































