Sementara untuk PLTU di wilayah Jawa, Madura, dan Bali (Jamali) stok batu bara dilaporkan tahan untuk 10,31 HOP.
Selanjutnya, untuk wilayah Kalimantan stok batu bara untuk PLTU di wilayah tersebut berada di kisaran 22,47 HOP.
Lalu, untuk wilayah Sulawesi stok batu bara dilaporkan setara dengan 13,12 HOP. Selanjutnya, PLN melaporkan stok batu bara untuk wilayah Jayapura tercatat setara 47,95 HOP.
Kemudian, Nusantara Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) stok batu bara untuk PLTU di wilayah tersebut di kisaran 14,59 HOP.
Pembangkit Gas
Sementara itu, Darmawan mengungkapkan stok gas alam cair atau liquified natural gas (LNG) pada April 2026 rata-rata berada pada level 12 hari.
Darmawan mengklaim pengiriman LNG untuk kebutuhan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) sudah terjadwal dan tidak mengalami kendala.
“HOP atau hari operasi untuk cadangan gas ini rata-rata sekitar 12 hari, artinya secara umum pengiriman LNG sudah terjadwal dan secara umum tidak ada kendala,” tutur Darmawan.
Dalam kesempatan itu, Darmawan juga melaporkan daya mampu neto sistem kelistrikan nasional hingga Maret 2026 mencapai 71,15 gigawatt (GW).
Dengan begitu, dia menyatakan sistem kelistrikan nasional hingga Maret 2026 dalam kondisi normal, dengan reserve margin (RM) sebesar 39%.
“Sehingga pasokan listrik nasional dalam kondisi yang andal dan ini sangat penting untuk mendukung kesinambungan pertumbuhan ekonomi dan juga kebutuhan masyarakat,” ucap dia.
Sekadar informasi, Direktur Manajemen Pembangkit PT PLN (Persero) Rizal Calvary Marimbo menyatakan pasokan batu bara untuk PLTU milik perseroan dan independent power producer (IPP) dalam kondisi memadai hingga Agustus 2026, usai PLN mengamankan kontrak pasokan batu bara sebesar 84 juta ton.
Rizal menyatakan PLN telah mendapatkan kepastian stok tersebut dari delapan pemasok, antara lain; PT Adaro Indonesia, PT Arutmin Indonesia, PT Berau Coal, PT Kaltim Prima Coal, PT Kideco Jaya Agung, PT Multi Harapan Utama, PT Indominco Harapan Mandiri, dan PT Bukit Asam
"Total seluruh yang akan dipasok adalah sekitar 84 juta metrik ton. Artinya ini cukup sampai dengan Agustus akhir nanti, jadi HOP kita akan membaik di beberapa pembangkit dan kita harapkan bahwa sebelum Lebaran batu bara sudah akan sampai ke seluruh pembangkit yang memerlukan, sehingga ancaman defisit kedepan bisa diatasi," kata Rizal kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Selasa (3/3/2026).
Lebih lanjut, Rizal mengungkapkan PLN juga sedang mengamankan sekitar 40 juta ton batu bara yang bakal dimanfaatkan selepas Agustus 2026.
Dengan demikian, total kebutuhan batu bara untuk sektor kelistrikan sepanjang tahun ini mencapai 124 juta ton.
"Iya, itu kan yang besar-besar, sisanya 40 juta metrik ton. Itu nanti kita akan bahas kembali, tetapi insyallah sampai Agustus aman," ungkap Rizal.
Lebih lanjut, Rizal menduga penambang batu bara pada awal tahun ini sempat menunggu kepastian kebijakan dari pemerintah sebelum akhirnya memasok hasil galiannya ke PLN.
Selain itu, dia menduga faktor cuaca buruk juga sempat menjadi penghambat bagi penambang untuk memenuhi kebutuhan batu bara PLN tersebut.
"Enggak ada [potensi blackout], aman," kata dia menegaskan.
(azr/ros)






























