Hadi memprediksi konsumsi gas alam terkompresi atau compressed natural gas (CNG) bakal meningkat, gegara pengalihan LPG industri untuk konsumsi masyarakat.
Dia menjelaskan dunia usaha dapat menggunakan produk mini CNG tube, CNG, dan mini gas alam cair atau liquified natural gas (LNG), jika kebutuhan LPG-nya tak terpenuhi.
Hadi mengungkapkan, dari sisi biaya, sumber energi tersebut lebih kompetitif karena harga per satuan kalorinya lebih murah sekitar 20% hingga 30% dibandingkan dengan LPG.
“Tinggal meningkatkan konektivitas dan memasang kompresor di setiap jaringan pipa dalam jarak tertentu, CNG bisa didistribusikan ke kawasan-kawasan industri,” tegasnya.
Berdasarkan perhitungannya, kebutuhan LPG industri sekitar 400.000 ton setara dengan CNG sekitar 50—60 standar kaki kubik per hari (MMSCFD).
“Hitungan kasar 0.4 juta ton itu setara dengan 50—60 MMSCFD saja. Produksi nasional gas sekitar 6.000 MMSCFD,” ungkap Hadi.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya menginstruksikan kilang LPG swasta untuk mengalihkan penjualan LPG industri menjadi dijual ke PT Pertamina Patra Niaga (PPN).
Nantinya, LPG yang dijual ke PPN tersebut bakal dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Hal tersebut dilakukan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas (Ditjen Migas) Kementerian ESDM untuk memitigasi penyediaan pasokan LPG.
“Kami juga menginstruksikan kepada kilang LPG swasta agar memprioritaskan penawaran kepada Pertamina Patra Niaga yang tadinya produksinya dijual kepada industri, tetapi kami memberikan prioritas, usulan prioritas kepada kilang-kilang LPG swasta untuk diberikan produksinya penawaran pertama kepada Pertamina Patra Niaga yang LPG-nya dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat,” kata Sekretaris Ditjen Migas Rizwi Jilanisaf Hisjam, dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI.
Dalam bahan paparan yang ditayangkan, dijelaskan bahwa kebutuhan LPG sepanjang Januari—Februari 2026 mencapai 26.000 metrik ton per hari.
Secara keseluruhan, sepanjang periode tersebut kebutuhan LPG mencapai 1,56 juta metrik ton. Dari besaran itu, sekitar 1,31 juta ton atau 83,97% pasokan LPG didapatkan dari impor dan produksi dalam negeri hanya sebesar 130.000 metrik ton.
Berdasarkan negaranya, impor LPG yang dilakukan Indonesia sampai 1 April 2026 mayoritas didatangan dari Amerika Serikat (AS), dengan porsi sebesar 68,91% dari total impor.
Posisi kedua, ditempati oleh Uni Emirat Arab (UEA) dengan porsi impor sebesar 11,83% dari total impor. Berikutnya, merupakan Arab Saudi dengan total impor sebesar 7,36% dari total impor.
Keempat, Qatar dengan porsi impor 5,21% dari total impor. Lalu, Australia dengan porsi impor 3,81% dari total impor. Selanjutnya, 2,61% impor LPG didatangkan dari Kuwait.
Sekadar informasi, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan Indonesia sempat mengalami kendala LPG, tetapi kondisi tersebut diklaim sudah berhasil diatasi sejak 4 April 2026.
Bahlil menjelaskan saat ini stok LPG nasional sudah berada di atas 10 hari. Dia juga menyatakan sejumlah kargo LPG tambahan bakal segera tiba di RI dalam waktu dekat.
Adapun, stok LPG Indonesia yang disebut berada di sekitar 10 hari masih dibawah batas minimum nasional yang ditetapkan sebesar 11,4 hari.
“Menyangkut LPG, ini teman-teman media saya menyampaikan bahwa masa sulit kita untuk LPG sudah kita lewati sejak tanggal 4. Alhamdulillah sekarang cadangan kita untuk LPG kapasitasnya sudah di atas 10 hari. Sebentar lagi kapal kita masuk,” ujar Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, baru-baru ini.
(azr/wdh)



























