Logo Bloomberg Technoz

Lembaga pemberi pinjaman yang berbasis di Manila ini memperkirakan pertumbuhan ekonomi China akan melambat menjadi 4,6% tahun ini dari sebelumnya 5% pada 2025. Konsumsi swasta di ekonomi terbesar Asia tersebut diprediksi akan tetap lesu.

India juga diproyeksikan mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi menjadi 6,9% pada 2026 dari angka 7,6% tahun lalu akibat hambatan eksternal, meski masih tertopang oleh konsumsi domestik yang tangguh. Sementara itu, pertumbuhan di negara-negara berkembang Asia Tenggara diperkirakan akan stabil secara luas.

ADB juga memperkirakan bahwa pertumbuhan di negara-negara maju kawasan Asia dan Pasifik akan turun dari 2,5% tahun lalu menjadi 2,2% pada 2026. Hal ini dipicu oleh perlambatan ekonomi di Hong Kong, Jepang, Singapura, dan Taiwan. Inflasi di negara berkembang Asia pun diprediksi melonjak menjadi 3,6% tahun ini, didorong oleh tingginya harga energi. Selain itu, harga pangan dan biaya produksi pertanian diperkirakan naik karena ketergantungan kawasan ini pada pasokan pupuk dan bahan baku terkait seperti urea dan amonia dari Timur Tengah.

Lebih lanjut, ADB memperingatkan bahwa perang Iran kemungkinan besar akan memukul produksi semikonduktor. Gangguan pengiriman bahan baku kunci untuk pembuatan chip seperti helium, sulfur, dan produk petrokimia menjadi penyebab utamanya. Ekonomi yang bergantung pada sektor pariwisata juga akan merasakan tekanan akibat kekacauan pada jadwal perjalanan global.

Meski perang menimbulkan risiko penurunan bagi ekonomi Asia, ADB memperingatkan pemerintah agar tidak melakukan pengetatan kebijakan moneter secara agresif maupun menerapkan kontrol harga.

“Jika dukungan memang diperlukan, langkah fiskal yang tepat sasaran dan berjangka waktu tertentu lebih diutamakan,” tulis ADB. “Kebijakan moneter harus fokus pada penyediaan likuiditas yang terarah dan menjaga ekspektasi inflasi melalui komunikasi yang efektif, alih-alih melakukan pengetatan agresif.”

(bbn)

No more pages