Melansir data Badan Pusat Statistik (BPS), pada inflasi Maret 2026 kelompok pakaian dan alas kaki hanya mengalami inflasi sebesar 0,65% secara tahunan, berbeda dengan kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau yang sebesar 3,34% dan kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga yang mencapai 7,24%.
“Inflasi tahunan terjadi pada seluruh sub kelompok, yaitu: subkelompok pakaian sebesar 0,84% dan sub kelompok alas kaki sebesar 0,01 persen. Sementara itu, kelompok ini pada Maret 2026 memberikan andil/sumbangan inflasi tahunan dan bulanan masing-masing sebesar 0,03% dan 0,02%,” kata Laporan BPS.
Bergantung Pasokan Global
Dalam industri tekstil, paraxylene (PX) kerap digunakan untuk membuat purified terephthalic acid (PTA) yang menjadi bahan baku serat poliester. Serat ini kemudian dipintal hingga berbentuk kain untuk proses tekstil lanjutan.
Material paraxylene ini digunakan dalam berbagai jenis kain sintetis, tekstil industri, serta kemasan fleksibel.
Sebagai gambaran, paraxylene adalah cairan tidak berwarna, dan mudah terbakar. Secara komersial, paraxylene diproduksi dari aliran reformate (olahan bensin mentah/naphtha) yang diambil dari kilang minyak.
Selain diaplikasikan untuk PTA, paraxylene juga digunakan untuk memproduksi botol dan wadah PET untuk kemasan di industri makanan dan minuman serta produk perawatan pribadi.
Sisi hulu dari industri ini adalah kilang minyak yang dominan berlokasi di Timur Tengah. Sehingga, ketegangan geopolitik yang terjadi saat ini dan membuat harga minyak mentah melonjak, otomatis merembet pada sistem rantai pasok global dan membuat harga paraxylene ikut terimbas.
Industri tekstil Indonesia sangat bergantung pada poliester untuk produksi massal. Apabila harga bahan baku melonjak hingga 40% seperti terjadi saat ini, akan memiliki efek domino dan sampai ke industri hilir.
Tekanan Harga dan Daya Beli
Menurut Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) kenaikan harga pada sisi hilir akan terimbas secara bertahap hingga tiga pekan ke depan.
Kenaikan harga pada bahan baku tekstil ini akan semakin memperkuat fenomena cost-push inflation, atau inflasi karena kenaikan harga barang, yang sudah terjadi di Indonesia.
Dari sisi konsumen, efeknya akan langsung terasa dalam bentuk penurunan dalam bentuk daya beli riil. Ketika harga pakaian naik, rumah tangga harus menyesuaikan pengeluaran.
Pola konsumsi, yang sebenarnya sudah berubah, akan semakin terdampak. Misalnya, pembelian pakaian ditunda, konsumen beralih ke produk yang lebih murah, atau bahkan pasar thrifting yang sedang dibatasi oleh pemerintah bisa jadi justru malah semakin tumbuh subur karena adanya kebutuhan akan pakaian murah.
Adaptasi yang dilakukan konsumen beberapa bulan ke belakang sebenarnya tengah menunjukkan adanya tekanan harga yang mulai menggerus fondasi konsumsi domestik. Penyebabnya, kenaikan biaya energi dalam bentuk tarif listrik, serta kenaikan harga makanan (volatil food), minuman, dan tembakau.
Sedangkan, inflasi inti yang lebih mencerminkan permintaan domestik justru cenderung jinak. Komponen inflasi inti terdiri dari perumahan, pendidikan, barang dan jasa rumah tangga, transportasi dan komunikasi, hiburan dan rekreasi, serta perawatan pribadi.
Dengan begitu, tekanan inflasi yang terjadi lebih merupakan cerminan kenaikan biaya, daripada dorongan permintaan kuat dari konsumsi rumah tangga (pull demand).
Dari sisi produsen, kenaikan harga bahan baku ini berpotensi mengerek biaya produksi sementara permintaan justru turun akibat tekanan harga dan melemahnya daya beli.
Dalam kondisi penuh tekanan seperti ini, produsen kerap berhitung ulang. Selain efisiensi operasional, langkah yang paling cepat dan sering diambil umumnya adalah rasionalisasi jumlah tenaga kerja.
Dampak dari pilihan tersebut malahan dapat meluas bukan cuma pada sektor tekstil, tapi juga pada daya beli masyarakat secara keseluruhan.
Sebab, ketika lapangan kerja kembali tertekan, konsumsi rumah tangga, yang selama ini jadi tumpuan pertumbuhan ekonomi, akan semakin melemah.
(dsp/aji)






























