“Lalu untuk bea keluar, bea keluar ini kan mengikuti tren perdagangan barang dan jasa untuk internasional. Termasuk juga impor, yaitu ada bea masuk dan sebagainya. Ini masih at par dan kita melihat arah untuk bea dan cukai sesuai dengan APBN 2026 itu akan tercapai,” katanya.
Febrio juga mengeklaim bahwa penerimaan bea dan cukai di bulan April sudah menunjukkan perbaikan dibandingkan dengan pendapatan di kuartal I-2026.
“Jadi data kemarin yang kita tunjukkan untuk Q1, itu kan sampai Maret ya. Nanti di April ini sebenarnya sudah ada data, ini akan membaik, lebih baik dibandingkan yang bulan-bulan sebelumnya,” kata Febrio.
Sebagai informasi, hingga akhir Maret 2026, pendapatan negara yang berasal dari kepabeanan dan cukai tercatat sebesar Rp67,9 triliun. Angka tersebut turun sebesar 12,6% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan yang berasal dari kepabeanan dan cukai tersebut berkontribusi sebesar 24,4% terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Sebaliknya, penerimaan pajak secara neto mencapai Rp394,8 triliun atau tumbuh 20,7% secara tahunan atau year-on-year (yoy).
Berdasarkan data Kementerian Keuangan, kontributor utama pertumbuhan tersebut berasal dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang tercatat Rp155,6 triliun atau melonjak hingga 57,7%. Kenaikan ini dinilai sejalan dengan meningkatnya aktivitas ekonomi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Selain itu, Pajak Penghasilan (PPh) orang pribadi dan PPh Pasal 21 juga tercatat Rp61,3 triliun atau tumbuh 15,8%. Angka ini mencerminkan adanya perbaikan kondisi ekonomi masyarakat sekaligus peningkatan kinerja administrasi perpajakan.
(ell)






























