Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, Febrio juga menyebut bahwa terdapat beberapa sektor yang bisa menjadi katalis pertumbuhan ekonomi seperti sektor pertanian yang tumbuh pesat, jauh dibandingkan pertumbuhan di tahun-tahun sebelumnya yang berada di kisaran 2%.

Padahal, pertanian memiliki kontribusi sekitar 13% dari perekonomian RI. Selain itu, jumlah tenaga kerja yang kerja di sektor pertanian itu sekitar 40 juta, menjadi sektor yang penting dengan pertumbuhan yang cenderung lambat.

“Tahun 2025 kemarin pertumbuhan sektor pertanian itu di atas 5%. Dan lebih penting lagi pertumbuhan sektor tanaman pangan itu di atas 9%. Jadi memang terjadi perubahan struktur dari perekonomian.” lanjut Febrio.

Menurut Febrio, hal ini sejalan dengan arahan presiden yang memberikan penguatan belanja di sektor pertanian yang akhirnya diserap oleh berbagai program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).

Selain sektor pertanian, katalis utama pertumbuhan ekonomi Indonesia menurut Febrio adalah sektor manufaktur yang mencatatkan pertumbuhan 5,4% di tahun 2025, lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang berada di bawah 5%.

Tantangan Pertumbuhan Ekonomi

Namun demikian, Febrio tak menampik akan adanya tantangan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2026. Salah satu faktor utamanya adalah harga minyak yang terus melambung imbas konflik Timur Tengah.

“Tantangannya ada, jelas. Tiba-tiba langsung kita harus dihadapkan pada harga crude [oil] yang tinggi,” kata Febrio.

Meski begitu Febrio meyakinkan bahwa pemerintah tengah menjaga defisit, daya beli dan juga belanja sehingga pertumbuhan ekonomi juga akan terus berlanjut.

Febrio juga bilang bahwa Kementerian Keuangan akan memaksimalkan belanja negara yang menurutnya akan dieksekusi lebih cepat di semester I-2026 ini.

“Contoh, tahun lalu itu kita belanja negaranya itu hanya sekitar Rp600an triliun. Q1 tahun ini kita sudah Rp815 triliun. Ini pertumbuhan 30%,” kata Febrio.

Nah ini pasti langsung akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi untuk Q1. Makanya kita yakin [pertumbuhan ekonomi] 5,5 itu akan tetap.” 

Sebelumnya, World Bank alias Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7% pada  2026. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan proyeksi Bank Dunia pada Oktober 2025 karena pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa tumbuh 4,8%. 

Dalam laporan World Bank berjudul East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026, perlambatan ini dipengaruhi oleh tekanan eksternal, terutama kenaikan harga minyak global serta meningkatnya sentimen kehati-hatian investor di pasar keuangan internasional (risk-off sentiment).

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan melambat menjadi 4,7%, seiring tekanan dari kenaikan harga minyak dan meningkatnya sentimen kehati-hatian investor (risk-off)," dikutip dari laporan tersebut, Kamis (9/4/2026). Tekanan tersebut diperkirakan akan menahan laju ekspansi ekonomi domestik. 

Meskipun demikian, dampak negatif tersebut dinilai akan sebagian teredam oleh pendapatan dari ekspor komoditas serta berbagai inisiatif investasi yang dipimpin oleh pemerintah.

(ell)

No more pages