Anthony menyoroti bahwa pengusaha, khususnya dari sektor usaha kecil dan menengah, memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Namun demikian, masih terdapat kesenjangan akses yang cukup signifikan di berbagai aspek.
“Kita memiliki jutaan pelaku usaha, tetapi tidak semuanya memiliki akses yang sama untuk berkembang. Di sinilah HIPMI harus hadir, membuka akses, memperkuat kolaborasi, dan memastikan lebih banyak pengusaha bisa naik kelas,” jelasnya.
Ia menilai bahwa tantangan seperti akses pasar, pembiayaan, serta jaringan bisnis menjadi hambatan utama yang harus segera diatasi. Dalam konteks ini, HIPMI diharapkan dapat berperan sebagai jembatan yang efektif bagi para pengusaha muda.
Anthony juga menegaskan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Pasal 33 UUD 1945 masih sangat relevan dalam menghadapi dinamika ekonomi saat ini. Prinsip kebersamaan dan keadilan ekonomi menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem usaha yang inklusif.
“Pasal 33 bukan sekadar teks konstitusi, tetapi arah ekonomi bangsa. HIPMI harus menjadi ruang usaha bersama, tempat pengusaha muda tidak berjalan sendiri, tetapi saling menguatkan dan tumbuh dan melaju bersama,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menekankan perlunya transformasi peran pengusaha muda agar tidak hanya berfokus pada sektor konsumsi. Menurutnya, keterlibatan di sektor strategis menjadi kunci untuk memperkuat ketahanan dan kedaulatan ekonomi nasional.
“Ke depan, pengusaha muda tidak hanya hadir di sektor konsumsi, tetapi juga harus masuk ke sektor strategis yang menentukan masa depan bangsa. Ini adalah bagian dari tanggung jawab kita sebagai pelaku ekonomi,” ujarnya.
Anthony menyebut sektor energi, pangan, dan industri sebagai bidang strategis yang harus mulai digarap secara serius oleh generasi muda pengusaha. Langkah ini dinilai akan memberikan dampak jangka panjang bagi pembangunan nasional.
Selain itu, ia juga mengajak seluruh anggota HIPMI untuk menjadikan organisasi ini sebagai kekuatan kolektif. Menurutnya, sinergi antaranggota menjadi kunci dalam menciptakan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
Anthony mengungkapkan bahwa dirinya telah melakukan kunjungan ke 30 provinsi di Indonesia. Kegiatan tersebut dilakukan untuk menyerap aspirasi langsung dari para pengusaha muda di berbagai daerah.
Pendekatan ini dinilai penting untuk memastikan bahwa kebijakan dan program yang akan dijalankan ke depan benar-benar mencerminkan kebutuhan riil di lapangan. Dengan demikian, HIPMI dapat menjadi organisasi yang lebih responsif dan adaptif.
“Ini bukan tentang satu orang, tetapi tentang gerakan bersama. HIPMI harus menjadi penggerak ekonomi yang membawa dampak nyata bagi pengusaha muda dan masyarakat luas. Untuk itu saya sengaja dalam beberapa bulan terakhir terus hadir menyerap apa yang menjadi aspirasi pengusaha muda kita di tanah air," tutupnya.
Langkah Anthony Leong dalam mengambil formulir pendaftaran ini menjadi sinyal awal dinamika menuju Munas XVIII HIPMI. Kontestasi kepemimpinan diperkirakan akan berlangsung menarik, seiring munculnya berbagai gagasan untuk memperkuat peran HIPMI dalam perekonomian nasional.
Dengan visi yang menekankan kolaborasi, inklusivitas, dan penguatan sektor strategis, Anthony membawa narasi bahwa HIPMI harus bertransformasi menjadi motor penggerak ekonomi yang lebih progresif. Hal ini sekaligus menjadi tantangan bagi seluruh kandidat untuk menawarkan solusi konkret bagi pengusaha muda Indonesia.
(tim)
































