Secara keseluruhan, fasilitas-fasilitas ini memiliki kapasitas produksi etilena lebih dari 25 juta ton per tahun, setara dengan gabungan kapasitas produksi Eropa dan Jepang.
Etilena merupakan bahan baku penting dalam industri petrokimia, yang kemudian diolah menjadi produk turunan seperti plastik, kemasan, hingga bahan tekstil.
Mengapa Dampaknya Belum Terlalu Terasa?
Meksi ada kerusakan fisik akibat serangan tersebut, menurut BNEF dampak langsung ke pasar global masih relatif terbatas. Penyebab utamanya, ekspor dari kawasan tersebut sebenarnya sudah terhenti lebih dulu, akibat penutupan Selat Hormuz.
Akibatnya, terjadi penumpukan stok di dalam negeri dan sejumlah pabrik, termasuk Sadara di Jubail, yang terpaksa mengentikan operasi. Hingga kini, belum ada kepastian apakah gencatan senjata selama dua pekan yang baru diumumkan akan membuka kembali jalur distribusi tersebut.
Hub Mana yang Paling Terdampak?
Berikut beberapa kawasan industri utama yang terdampak, di antaranya:
-
Jubail (Arab Saudi): Hub terbesar di Teluk dengan kapasitas lebih dari 12 juta ton etilena per tahun. Meski skalanya besar membuat dampak dari kerusakan lokal bisa terbatas, laporan menunjukkan gangguan pada infrastruktur listrik yang berpotensi memengaruhi beberapa fasilitas sekaligus.
-
Assaluyeh dan Mahshahr (Iran): Hub terbesar kedua dengan kapasitas sekitar 6 juta ton per tahun. Dilaporkan mengalami kerusakan lebih luas akibat serangan. Meski begitu, fasilitas ini diasumsikan masih mengirimkan produk kimia berdasarkan pelacakan tanker.
-
Ruwais (UEA): Memiliki tiga fasilitas yang saling terintegrasi. Kerusakan pada fasilitas hulu seperti pengolahan gas dapat berdampak pada seluruh sistem.
- Shuaiba (Kuwait) dan Mahshahr (Iran): Juga dilaporkan mengalami kerusakan dalam beberapa hari terakhir.
Apa Produk yang Paling Terdampak?
Dari sisi jenis produk, yang paling terdampak adalah:
-
Etilena dan metanol: masing-masing mencakup sekitar 12% dan 9% kapasitas global dari hub yang terdampak.
-
Produk turunannya seperti polyethylene (PE) yang menjadi bahan utama industri kemasan global, dan monoethylene glycol (MEG), yaitu bahan baku untuk tekstil dan botol plastik (PET).
- Sebaliknya, dampak terhadap polyvinyl chloride (PVC) terbatas, kurang dari 2%. Kapasitas lokal untuk bahan kimia penting lainnya seperti phenol, PET, dan turunan stynerics juga relatif kecil.
Apa Risiko ke Depan?
Dalam jangka pendek, pasar global masih cukup “terlindungi” karena ekspor dari kawasan tersebut memang sudah berhenti. Namun, risiko yang lebih besar bisa muncul jika kerusakan pada fasilitas, terutama yang berlokasi di Iran, akan mengganggu produksi yang masih berjalan.
BNEF memperkirakan gangguan ini berpotensi menghilangkan kapasitas etilena dari pasar global hingga 7,5 juta ton per tahun. Dampaknya terutama akan terasa pada pasokan MEG, PE, dan styrene, serta metanol dalam jumlah yang hampir setara.
Apa Negara yang Paling Terdampak?
Asia jadi kawasan dengan risiko tekanan paling besar. Jika gangguan terhadap impor nafta dan minyak mentah masih berlanjut, negara-negara di Asia berpotensi kehilangan akses terhadap bahan baku, hingga 35 juta ton per tahun dari kapasitas produksi etilena.
Negara yang cenderung rentan di antaranya, Korea Selatan, Jepang, dan Singapura. Ketiganya sangat bergantung pada impor bahan baku dari kawasan tersebut.
Sebaliknya, negara seperti Thailand, Rusia, Kanada, dan Amerika Serikat justru diuntungkan. Sebab, produksi etilena di negara ini berbasis pasokan gas domestik dan tidak terlalu bergantung pada bahan baku dari Timur Tengah.
(dsp/ain)































