Logo Bloomberg Technoz

Meredanya tekanan harga minyak mentah membuat semua mata uang kawasan Asia kembali menguat. Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama lainnya melemah 1,03% ke posisi 98,83.

Peso Filipina menguat signifikan 1,52%, disusul won Korea Selatan 1,46%, baht Thailand 1,4%, ringgit Malaysia 1,31%, yen Jepang 0,85%, dolar Taiwan 0,65%, yuan China 0,53%, rupiah 0,5%, yuan offshore 0,43%, rupee India 0,41%, dan dolar Hong Kong 0,05%. 

Namun, bagi rupiah penguatan ini tak sampai membawanya kembali ke level Rp16.000-an/US$. Jika ditarik ke awal tahun ini, maka rupiah telah terdepresiasi 1,88%, dan menjadi yang terlemah ketiga di kawasan setelah rupee India (2,96%) dan won Korea Selatan (2,74%). 

Penguatan rupiah di hari ini lebih ditopang oleh euforia imbas dari meredanya tekanan eksternal. Namun, dari sisi domestik tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda. Agaknya penguatan rupiah hari ini belum bisa disebut sebagai sinyal pembalikan tren. 

Hari ini, otoritas moneter merilis bahwa cadangan devisa tergerus selama tiga bulan berturut-turut sejak Januari 2026. Pada Desember 2025, cadangan devisa tercatat US$156,47 miliar, lalu turun pada Januari menjadi US$154,58 miliar.

Kemudian pada Februari cadangan devisa juga menyusut US$2,68 miliar menjadi US$151,9 miliar. Pada Maret cadangan devisa juga menyusut US$3,7 miliar dibandingkan bulan sebelumnya menjadi US$148,2 miliar.

Penurunan cadangan devisa pada Maret terlihat semakin dalam dan semakin terakselerasi karena tekanan eksternal yang cenderung persisten. Pada Maret, setelah perang pecah di Timur Tengah rupiah terus bergejolak hingga Rp16.995/US$ hampir menembus batas psikologisnya di level Rp17.000/US$. 

Terlepas dari meredanya tensi perang, saat ini rupiah masih berada di bawah bayang-bayang kondisi ketatnya fiskal dan sejumlah sentimen terkait defisit APBN. Di sisi lain, kabar belanja yang masih ekspansif dan dianggap jauh dari kata efisiensi masih jadi perhatian pelaku pasar, salah satunya terkait pembelian ribuan unit sepeda motor bagi SPPG di daerah. 

Belanja negara yang sudah terlihat melonjak signifikan di awal tahun semakin memperlebar kebutuhan pembiayaan, di tengah biaya utang yang masih relatif tinggi. Sebagai catatan, pemerintah memiliki utang jatuh tempo sebesar Rp144,42 triliun yang harus terbayar pada bulan ini. 

(lav)

No more pages