Logo Bloomberg Technoz

Dalam pernyataan pada hari Senin, saudara perempuan Kim Jong Un, Kim Yo Jong, menyebut bahwa sang pemimpin Korut menganggap permintaan maaf Lee sebagai "manifestasi dari sikap pria yang jujur dan berpikiran terbuka."

Namun, Korut kemudian membantah interpretasi Seoul atas pernyataan tersebut dan menyebutnya sebagai "pembacaan mimpi yang penuh harapan."

"Inti utama dari pernyataan pers tersebut adalah peringatan yang jelas," ujar seorang pejabat senior Korut dalam pernyataan terpisah pada Selasa. "Identitas Korea Selatan sebagai negara musuh yang paling memusuhi Korea Utara tidak akan pernah bisa berubah dengan kata-kata atau perilaku apa pun," tegas pejabat tersebut.

Peluncuran pada hari Rabu ini juga menyusul insiden pada Selasa, di mana Korut menembakkan proyektil yang diduga merupakan uji coba senjata yang gagal. Kantor Berita Yonhap menyebutkan proyektil tersebut kemungkinan adalah rudal balistik.

Proyektil yang ditembakkan pada Selasa itu terbang ke arah timur sebelum menunjukkan tanda-tanda anomali di awal penerbangan dan menghilang. Sementara itu, rudal jarak pendek yang diluncurkan Rabu pagi tercatat terbang sejauh kurang lebih 240 kilometer.

Rentetan peluncuran proyektil ini menggarisbawahi tantangan berat yang dihadapi pemerintahan Lee Jae Myung, meskipun ia telah mengambil serangkaian langkah untuk mengurangi ketegangan dan memperbaiki hubungan dengan tetangganya yang bersenjata nuklir tersebut.

"Korea Utara mencoba menghalangi segala upaya Seoul untuk menggambarkan situasi ini sebagai pencapaian diplomatik. Mereka ingin menegaskan, baik di dalam maupun luar negeri, bahwa merekalah yang memegang kendali di Semenanjung Korea," ujar Lim Eul-chul, profesor di Institut Studi Timur Jauh, Universitas Kyungnam.

Hingga saat ini, rezim Kim Jong Un sebagian besar masih mengabaikan tawaran dari pemerintahan Lee, sembari terus mendesak Washington untuk mengakui negara mereka sebagai kekuatan nuklir dunia.

(bbn)

No more pages