“Kalau itu yang terjadi, maka pertumbuhan ekonomi perlu diperlambat. Biasanya bank sentral yang bergerak lebih dulu, baru kemudian kebijakan lain mengikuti,” kata Purbaya.
Purbaya juga mengatakan bahwa ada pula inflasi cost push atau inflasi yang terjadi karena biaya-biaya yang naik. Sebagai contoh, biaya transportasi atau harga bahan baku yang meningkat seperti kenaikan harga minyak. Dalam kondisi tersebut, Purbaya menilai kebijakan moneter seperti kenaikan suku bunga tidak selalu efektif, begitu pula dengan kebijakan fiskal.
“Kalau cost push, kebijakan bank sentral tidak terlalu efektif. Kita perlambat ekonomi pun, harganya belum tentu turun karena memang biayanya yang naik,” ujarnya.
Ia menegaskan, pendekatan kebijakan harus disesuaikan dengan sumber inflasi, dan tidak bisa dilakukan secara seragam.
“Jadi jangan langsung menyimpulkan bahwa setiap harga naik harus direspons dengan menaikkan suku bunga atau memperlambat ekonomi. Kita harus lihat sumbernya dulu,” kata Purbaya.
Ke depan, pemerintah akan terus memantau perkembangan global yang dinilainya semakin tidak menentu, serta menjaga stabilitas harga melalui langkah yang terukur.
(ell)



























