Logo Bloomberg Technoz

Manajemen bakal membawa usulan dividen final itu ke dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 10 April 2026.

Seiring dengan rencana dividen itu mayoritas analis menyematkan pandangan positif terhadap pergerakan harga saham BBRI selama satu tahun mendatang.

Berdasarkan data konsensus analis yang dihimpun Bloomberg per 7 April 2026, sebanyak 30 analis atau 83,3% konsensus merekomendasikan buy untuk saham BBRI.

Sementara itu, 4 analis atau 11,1% konsensus merekomendasikan posisi hold dan 2 analis lainnya dengan porsi 5,6% konsensus menyarankan jual untuk saham BBRI.

Adapun target harga rata-rata atau 12-month target price saham BBRI berada di level sekitar Rp4.422 per saham, lebih tinggi dibandingkan harga terakhir Rp3.250 per saham.

Dengan demikian, saham bank pelat merah itu masih memiliki potensi kenaikan atau return potential sekitar 36,1% dalam satu tahun ke depan.

Sejumlah sekuritas global maupun domestik mempertahankan pandangan positif terhadap saham BBRI.

Misalkan, analis dari Citi dan Goldman Sachs memberikan rekomendasi buy dengan target harga masing-masing Rp4.400 per saham dan Rp4.190 per saham.

Malahan, analis dari OCBC Sekuritas memasang target harga lebih tinggi di level Rp5.000 per saham.

Di sisi lain, beberapa bank investasi lainnya seperti JP Morgan dan Macquarie menyematkan pandangan berbeda.

JP Morgan merekomendasikan underweight saham BBRI dengan target harga Rp3.200 per saham dan Macquarie merekomendasikan underperform dengan target harga Rp3.080 per saham.

Dari lantai bursa, saham BBRI cenderung bergerak melemah pada perdagangan Selasa (7/4/2026). Malahan, saham BBRI telah terkoreksi 10,93% ke level Rp3.260 per saham sejak awal tahun.

(naw)

No more pages