Kemarin, Pada Senin (6/4/2026), harga emas dunia di pasar spot ditutup di US$ 4.658,7/troy ons. Melemah 0,4% dibandingkan penutupan perdagangan akhir pekan lalu.
Dengan demikian, harga emas genap turun dua hari beruntun. Selama dua hari tersebut, harga berkurang 2,65%.
Sentimen negatif bagi harga emas masih datang dari Timur Tengah. Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran masih berkobar, belum ada tanda-tanda kesepakatan.
Presiden AS Donald Trump malah menebar ancaman baru. Sebagaimana diwartakan Bloomberg News, Trump menyebut Iran akan ‘dikeluarkan’ pada Selasa waktu setempat. Militer AS pun berencana kembali menyerang fasilitas energi Negeri Persia.
“Seluruh negara (Iran) bisa dikeluarkan dalam semalam, dan itu adalah besok malam,” tegas Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih.
Saat Timur Tengah masih membara, maka harga energi bisa dipastikan terus membumbung tinggi. Dalam sebulan terakhir, harga minyak jenis brent melesat 11,06%.
Saat harga energi makin mahal, maka dunia dibayangi risiko tekanan inflasi. Ketika inflasi meninggi, maka bank sentral di berbagai negara (termasuk Federal Reserve di AS) akan kesulitan untuk melonggarkan kebijakan moneter dengan penurunan suku bunga acuan.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga belum turun.
(aji)




























