“Ketika ada defisit, masyarakat jangan kaget memang anggaran kita didesain defisit. Kalau saya belanjakan merata sepanjang tahun kan harusnya di triwulan I-2026 lebih besar dibanding tahun lalu defisitnya,” kata Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR.
Mengacu pada data Kementerian Keuangan, pelebaran defisit anggaran dicipu oleh lonjakan belanja negara yang mencapai Rp815 triliun, atau tumbuh 31,4% secara tahunan, dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp620,3 triliun.
Di sisi lain, realilsasi penerimaan negara baru mencapari Rp574,9 triliun. Sebagian besar berasal dari pajak yang tercatat Rp462,7 triliun, meningkat 14,3%, dibandingkan Maret tahun lalu sebesar Rp404,7 triliun.
Adanya kesenjangan antara pengeluaran belanja dan penerimaan, memperlebar ruang tekanan terhadap stabilitas makro, terutama nilai tukar. Dalam konteks saat ini, defisit yang terjadi bukan sekadar konsekuensi desain fiskal, tapi juga jadi bagian dari kondisi adanya kebutuhan subsidi dan kompensasi energi di tengah lonjakan harga minyak dunia.
Pasar keuangan nampaknya akan merespons kondisi ini dengan kehati-hatian yang tinggi. Di pasar obligasi respons pasar memang belum terlalu terlihat dan pergerakan imbal hasil masih beragam.
Di tenor pendek imbal hasil tercatat menurun dengan tenor 1 tahun imbal hasil turun 5,3 bps di 5,84%, tenor 3 tahun turun 0,2 bps ke 6,4%, dan tenor acuan 10 tahun tetap berada di 6,64%.
Sebagai catatan, investor global sempat mencatatkan penjualan bersih obligasi sebesar US$43,1 juta pada Rabu (1/4/2026) secara harian. Namun secara mingguan, investor asing masih mencatatkan pembelian aset obligasi sebesar US$228,9 juta.
(dsp/aji)


























