Di lain pihak, Iran berkeras atas ancaman Trump. Negara yang kini dipimpin oleh Mojtaba Khamenei tersebut menegaskan hanya akan dibuka kembali sepenuhnya jika ada pembayaran kerugian akibat perang, dilaporkan Bloomberg News.
Teheran sendiri terus menyerang sasaran-sasaran energi di negara-negara tetangganya di Teluk, termasuk markas besar minyak Kuwait.
Sekadar diketahui bahwa serangan AS ke Iran sudah berlangsung lebih dari satu bulan namun insiden terakhir justru pesawat Amerika ditembak jatuh. Ketua Komite Intelijen DPR AS, Rick Crawford dalam sebuah pernyataan menyebut, operasi khusus di Iran tidak berdampak pada korban jiwa. Trump juga menyebut misi penyelamatan sebagai aksi dramatis.
Serangan Iran telah membuat Selat Hormuz — yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia — nyaris terhenti, mendorong kenaikan harga energi dan mengguncang pasar global.
Harga minyak terguncang akibat konflik tersebut, dan melonjaknya biaya produk-produk seperti bahan bakar jet dan solar mengancam akan memicu gelombang inflasi baru.
Para anggota OPEC+ menaikkan kuota produksi mereka untuk bulan Mei sebagai langkah simbolis, karena perang membatasi produksi dan pengiriman dari beberapa anggota terbesar aliansi tersebut.
(red)





























