Logo Bloomberg Technoz

Penutupan Selat Hormuz—jalur bagi seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia—telah mengacaukan pasar global dan memicu krisis energi yang luas.

Donald Trump kembali mengungkapkan rasa frustrasinya atas penutupan selat tersebut serta kegagalan negara sekutu untuk membantu AS membukanya kembali.

"Dengan sedikit waktu lagi, kita bisa dengan mudah MEMBUKA SELAT HORMUZ, AMBIL MINYAKNYA, & RAUP UNTUNG BESAR," tulis Trump dalam unggahan di media sosial. Meski demikian, belum jelas langkah konkret apa yang sedang dipertimbangkan oleh Trump.

Meski ada janji perlindungan dari Trump, para pemilik kapal masih ragu untuk kembali sepenuhnya ke Selat Hormuz. Kekhawatiran utama bukan hanya soal finansial, melainkan keselamatan kru kapal. Iran terus mengancam kapal-kapal yang melintas dengan serangan drone, rudal, hingga ranjau laut.

Untuk mendapatkan fasilitas jaminan ini, DFC menetapkan syarat ketat. Pemohon harus memaparkan detail asal dan tujuan kapal, pemilik manfaat utama, pemilik kargo, hingga rincian pemberi pinjaman yang mendanai kapal tersebut.

Pemulihan kepercayaan di Selat Hormuz menjadi prioritas mendesak AS karena harga energi global terus membubung. India, sebagai konsumen minyak terbesar ketiga di dunia, menjadi salah satu yang terdampak paling parah.

Di AS sendiri, harga bensin telah menembus US$4 per galon untuk pertama kalinya sejak 2022. Hal ini menambah beban bagi konsumen Amerika yang sudah berjuang dengan masalah daya beli.

Meski menggandakan komitmen reasuransi memperluas jaminan finansial, program ini masih belum mencakup janji pengawalan angkatan laut yang secara teoritis dapat memberikan perlindungan bagi awak kapal. Bahkan dengan jaminan tersebut, hal itu mungkin belum cukup untuk meyakinkan kapal kembali melintasi selat tersebut.

“Tingkat asuransi akan turun—dan kesediaan operator komersial untuk mengasuransikan serta mengirim kargo melalui Selat akan meningkat—hanya setelah kemampuan militer Iran dilemahkan,” kata Presiden Rapidan Energy Group, Bob McNally, kepada Bloomberg News awal pekan ini.

(bbn)

No more pages