Logo Bloomberg Technoz

Menurut dia, berbagai kebijakan pengendalian inflasi pangan mendukung terkendalinya inflasi volatile food yang sedikit melambat mencapai 4,2% (yoy) di tengah tantangan cuaca ekstrem.

Meskipun begitu, permintaan komoditas telur, daging ayam, ikan segar, dan daging sapi meningkat seiring momen Ramadan dan Idulfitri.

"Turunnya harga emas turut mendorong penurunan inflasi inti dari 2,6% (yoy) menjadi 2,5% (yoy)," sebut dia.

Neraca Dagang

Selanjutnya, Febrio mengatakan kinerja perdagangan Indonesia pada Februari 2026 tetap melanjutkan tren surplus selama 70 bulan berturut-turut. 

Menanggapi hal itu, Febrio mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan geopolitik global dan memperkuat langkah mitigasi bersama kementerian/lembaga terkait untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional.

"Fundamental eksternal Indonesia akan terus dijaga, didukung kinerja sektor eksternal yang terjaga dan pengelolaan fiskal yang prudent," tegas dia.

Pemerintah juga mengoptimalkan berbagai bauran kebijakan untuk menjaga momentum pertumbuhan dan memperkuat ketahanan ekonomi, salah satunya melalui penguatan perbaikan iklim investasi dengan optimalisasi kanal Debottlenecking Satgas P2SP dalam menyelesaikan berbagai hambatan investasi secara cepat dan terkoordinasi. 

Di sisi lain, strategi pemerintah juga diarahkan pada penguatan kemandirian energi nasional, serta pemanfaatan momentum transformasi digital dan perkembangan budaya kerja sebagai instrumen untuk meningkatkan efisiensi ekonomi. Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat ketahanan ekonomi nasional dalam menghadapi dinamika global yang semakin kompleks.

Neraca perdagangan pada Februari 2026 mencatat surplus US$1,27 miliar, didukung oleh ekspor yang tumbuh US$22,17 miliar. Secara kumulatif Januari–Februari 2026, surplus perdagangan tercatat sebesar US$2,23 miliar dengan total ekspor mencapai US$44,32 miliar atau meningkat 2,19% (ctc), mencerminkan daya saing yang tetap terjaga di tengah dinamika global.

Kinerja ekspor tersebut antara lain didukung oleh komoditas unggulan seperti besi dan baja, lemak dan minyak hewan/nabati (termasuk CPO), serta bahan bakar mineral yang tetap memberikan kontribusi signifikan.

Di sisi lain, peningkatan impor yang tumbuh 14,44% (ctc) didominasi oleh bahan baku/penolong dan barang modal, yang mengindikasikan menguatnya aktivitas produksi dan investasi domestik. Struktur impor yang produktif ini memberikan sinyal positif bagi potensi peningkatan ekspor serta keberlanjutan pertumbuhan ekonomi ke depan.

(lav)

No more pages