Tekanan biaya produksi akibat kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok turut menekan aktivitas industri. "Kombinasi demand shock dan cost pressure ini membuat laju ekspansi industri melambat signifikan, mendekati batas stagnasi," tutur dia.
"Maka dari itu arah dari PMI akan sangat ditentukan oleh pemulihan permintaan global, stabilitas harga energi, serta efektivitas kebijakan pemerintah dalam menjaga daya saing industri"
Sebelumnya, S&P Global melaporkan aktivitas manufaktur diukur dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) di Indonesia untuk periode Maret ada di angka 50,1.
S&P melaporkan, penyebab utamanya adalah adanya "pengurangan produksi dan pembelian bahan baku terjadi pada Maret. Responden menyatakan bahwa perang di Timur Tengah berdampak terhadap harga dan ketersediaan material, yang kemudian mempengaruhi permintaan dan produksi produk manufaktur."
Padahal, pada empat bulan sebelumnya secara beruntun, produksi sempat mengalami kenaikan. Penurunan yang terjadi pada Maret ini juga menjadi yang terdalam sejak Juni tahun lalu.
Responden menilai bahwa penurunan tersebut disebabkan oleh terbatasnya pasokan bahan baku dan kenaikan harga, akibat perang di Timur Tengah.
Alhasil, dunia usaha pun menurunkan jumlah tenaga kerja, meski tipis saja. Tidak hanya itu, dunia usaha juga mengurangi pembelian bahan baku.
"Data Maret memberi indikasi adanya penurunan produksi dan pemesanan baru (new orders) di sektor manufaktur Indonesia. Pemesanan baru turun dengan laju terdalam selama sembilan bulan terakhir. Permintaan juga menurun turun, di mana ekspor mengalami koreksi paling dalam sejak November tahun lalu," ungkap Usamah Bhatti, Ekonom S&P Global Market Intelligence.
(ain)































