Pakar juga berargumen bahwa waktu yang dihabiskan untuk menatap layar menggantikan aktivitas dunia nyata yang penting bagi perkembangan emosional dan sosial anak-anak.
“Masih banyak yang belum kita ketahui mengenai dampak konten AI bagi anak-anak. YouTube turut serta dalam eksperimen yang tidak terkendali ini dengan mempromosikan konten yang dihasilkan AI tanpa penelitian yang membuktikan manfaatnya dan tanpa mempertimbangkan prinsip-prinsip perkembangan anak yang menunjukkan bahwa hal itu kemungkinan besar justru merugikan,” tulis kelompok tersebut.
Surat tersebut ditandatangani oleh psikolog sosial Jonathan Haidt, pengarang buku The Anxious Generation. Buku ini memicu gerakan global untuk melawan dampak negatif media sosial dan ponsel pintar terhadap remaja. Pendukung gerakan ini adalah kelompok-kelompok pembela anak seperti Fairplay dan National Alliance to Advance Adolescent Health. Federasi Guru Amerika dan beberapa sekolah juga turut menandatangani surat tersebut.
“Kami memiliki standar tinggi untuk konten di YouTube Kids, termasuk membatasi konten yang dihasilkan AI di aplikasi tersebut pada sejumlah kecil saluran berkualitas tinggi,” kata juru bicara YouTube, Boot Bullwinkle.
Ia menambahkan bahwa orang tua juga memiliki opsi untuk memblokir saluran. “Di seluruh YouTube, kami memprioritaskan transparansi terkait konten AI, memberi label pada konten dari alat AI kami sendiri, dan mewajibkan kreator untuk mengungkapkan konten AI yang realistis. Kami selalu mengembangkan pendekatan kami agar tetap relevan seiring dengan perkembangan ekosistem.”
Video yang dihasilkan AI semakin populer di YouTube, terutama ditujukan untuk balita dan anak-anak lainnya. Beberapa kreator menemukan bahwa mendelegasikan pekerjaan tersebut ke sistem AI membuatnya jauh lebih mudah dan murah, dan bahkan mulai membagikan tutorial tentang cara b
Mohan mengatakan pada bulan Januari bahwa “mengelola konten AI slop” dan “memastikan YouTube tetap menjadi tempat di mana orang merasa nyaman menghabiskan waktu mereka” merupakan prioritas utama perusahaan pada tahun 2026.
Meski begitu, YouTube juga berpendapat bahwa tidak semua konten yang dibuat dengan AI adalah “konten yang tidak berkualitas,” dan bahwa jika dilakukan dengan benar, pembuatan konten dengan AI bahkan bisa memberikan dampak positif.
YouTube mewajibkan kreator untuk memberi label pada “konten altered dan synthetic” Para pendukung berargumen dalam surat tersebut bahwa label-label ini “kemungkinan besar tidak akan dipahami oleh anak-anak yang belum bisa membaca, yang menjadi sasaran utama dari banyak konten AI yang tidak berkualitas ini.”
Bulan Maret, Google mengumumkan investasi sebuah studio animasi AI yang berfokus pada pembuatan konten YouTube untuk anak-anak, Animaj, sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kualitas penawaran bagi pengguna muda.
Surat yang diterima pada hari Rabu itu datang di tengah upaya-upaya dari pihak luar untuk mengubah cara kerja YouTube. Pada bulan Maret, sebuah sidang juri bersejarah mengenai kecanduan media sosial memutuskan bahwa Google dan Meta Platforms Inc. bertanggung jawab atas kerugian yang dialami seorang pengguna muda akibat produk-produk yang dirancang untuk membuatnya terus terpikat.
Kedua perusahaan tersebut menyatakan akan mengajukan banding atas putusan tersebut. Namun, para penggugat, para pembela konsumen, dan para pembuat undang-undang kini mendesak kedua perusahaan tersebut untuk mengubah beberapa fitur operasional mereka yang paling menguntungkan, termasuk algoritma konten mereka.
(bbn)






























