"Reli tajam saham dalam 24 jam terakhir menunjukkan bagaimana resolusi konflik, atau harapan akan hal tersebut, dapat dengan cepat mendorong pasar lebih tinggi," ujar Ulrike Hoffmann-Burchardi dari UBS Global Wealth Management.
Presiden Trump dijadwalkan menyampaikan pidatonya pada pukul 9 malam waktu Washington. Menurut pejabat Gedung Putih, pemimpin AS tersebut diperkirakan akan mengeklaim keberhasilan kampanye militer di Iran dan menekankan bahwa penghentian operasi militer mungkin terjadi dalam waktu dekat.
Pada Rabu, Trump menyebut bahwa Iran telah meminta gencatan senjata, namun ia menambahkan bahwa AS hanya akan mempertimbangkannya jika Selat Hormuz dibuka kembali. Sebaliknya, Kementerian Luar Negeri Iran melalui stasiun TV pemerintah menyatakan bahwa klaim permintaan gencatan senjata tersebut adalah "palsu dan tidak berdasar."
Pernyataan tersebut menyusul komentar Trump pada Selasa yang menyebut konflik dapat berakhir dalam dua hingga tiga minggu, yang langsung mendorong reli tajam di pasar saham.
Di Asia, data yang akan dirilis mencakup inflasi di Korea Selatan, data perdagangan Australia, serta indeks manajer pembelian manufaktur HSBC untuk India. Sementara itu, pasar saham di Filipina tutup.
Meskipun ada harapan damai, beberapa investor memperingatkan bahwa pemulihan arus minyak ke level normal akan memakan waktu lama meskipun perang berakhir sesuai jadwal Trump, mengingat adanya kerusakan pada sejumlah fasilitas energi. Tim Trump juga mengisyaratkan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz—yang mengangkut 20% minyak mentah dunia—mungkin bukan syarat mutlak untuk mengakhiri konflik.
"Setiap minggu yang berlalu meningkatkan beban ekonomi global akibat konflik Iran," tulis Tiffany Wilding, ekonom di Pacific Investment Management Co (PIMCO). Menurutnya, pada titik tertentu, "dampak ekonomi dari gangguan yang terus-menerus akan mulai menumpuk dan berimplikasi pada risiko resesi ekonomi global."
(bbn)



























