Ada Tendensi Denyut Ekonomi Melemah di Akar Rumput
Redaksi
31 March 2026 13:59

Bloomberg Technoz, Jakarta - Jika menganalogikan perekonomian Indonesia sebagai jantung, sepertinya detaknya saat ini cukup lemah. Memang di permukaan, data-data makro masih terlihat baik-baik saja, dengan kondisi likuiditas yang cukup, kredit yang disalurkan oleh perbankan secara umum masih tumbuh meski melambat, dan sistem keuangan yang tetap stabil. Namun di lapisan paling bawah, akar rumput, di mana pelaku usaha kecil menengah beroperasi, mesin ekonomi sepertinya sedang tersendat.
Melansir data Bank Indonesia (BI), kredit pada sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) pada Februari 2026 terkontraksi 0,6% secara tahunan (year-on-year/yoy), melanjutkan kontraksi bulan sebelumnya sebesar 0,5%. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor riil, khususnya UMKM mulai kehabisan napas.
Sayangnya, kondisi ini terjadi di tengah kondisi likuiditas yang cukup longgar. Uang beredar dalam arti luas (M2) tetap tumbuh 8,7% yoy dan tercatat Rp10.089,9 triliun, meski lebih lambat daripada bulan sebelumnya yang tumbuh 10% yoy. Artinya, meski uang tersedia di sistem, tetapi tidak mengalir ke 'kolam' yang membutuhkan.
UMKM kerap disebut sebagai tulang punggung ekonomi nasional lantaran kontribusinya cukup signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). UMKM menyumbang setidaknya 61% terhadap PDB, dan menyerap lebih dari 97% tenaga kerja.
Dari data uang beredar bulan Februari juga ditemukan rincian bahwa kredit untuk usaha kecil terkontraksi 1,5% (yoy), sementara usaha menengah turun 0,4% (yoy). Bahkan segmen mikro, yang selama ini menjadi bantalan terakhir, hanya tumbuh 0,004%, nyaris stagnan.































