Masalahnya, inflasi yang terjadi saat ini cenderung berasal dari sisi pasokan bukan permintaan. Alhasil, bagi kawasan Asia efek perang menciptakan tekanan dari sisi eksternal karena penguatan dolar AS, tetapi dari sisi domestik masing-masing negara ada risiko perlambatan ekonomi.
Bagi rupiah, meski sedikit lagi menembus level psikologisnya di Rp17.000/US$ tetapi posisinya relatif netral dibandingkan negara lain di kawasan yang mengandalkan impor minyak mentah dari Timur Tengah, seperti Filipina dan Korea Selatan.
Akan tetapi, kondisi ini belum sepenuhnya aman bagi rupiah. Risiko arus modal keluar (capital outflow) masih membayangi pasar domestik apalagi di tengah perkasanya dolar AS seperti beberapa hari terakhir.
Lebih jauh, lonjakan harga minyak, selain dapat menyebabkan inflasi impor dan menyumbang defisit fiskal, juga dapat merembet pada inflasi pangan.
Kenaikan biaya energi dan pupuk berpotensi mendorong harga makanan dalam beberapa bulan ke depan, dan dapat semakin memperpanjang tekanan inflasi domestik.
(dsp/aji)





























