RI Diuntungkan dari Guncangan Energi Global Asia
Redaksi
30 March 2026 11:19

Bloomberg Technoz, Jakarta - Guncangan energi global yang dipicu ketegangan geopolitik di kawasan strategis seperti Selat Hormuz kini berkembang menjadi tekanan makroekonomi yang luas. Peristiwa ini tidak lagi sekadar isu pasokan minyak, melainkan telah menjalar ke berbagai indikator ekonomi utama.
Menurut Shan Saeed dari IQI Global, fenomena ini berfungsi sebagai “macro filter” yang memisahkan negara dengan ketahanan ekonomi kuat dan yang rentan.
“Ini bukan sekadar guncangan energi. Ini adalah shock kondisi finansial yang menyebar melalui inflasi, nilai tukar, dan premi risiko negara,” ujar Shan.
Sekitar 20% aliran minyak dunia melewati Selat Hormuz. Gangguan di jalur ini tidak hanya memicu lonjakan harga energi, tetapi juga menciptakan efek berantai yang signifikan terhadap inflasi, nilai tukar, hingga risiko negara.
“Gangguan di Selat Hormuz tidak mendistribusikan tekanan secara merata, tetapi menilai ulang ketahanan setiap ekonomi berdasarkan kekuatan neraca dan kredibilitas kebijakan,” jelas Shan Saeed, Chief Economist IQI Global.
Indonesia di Tengah Tekanan Energi Global
Di kawasan ASEAN, negara dengan ketergantungan impor energi tinggi seperti Singapura, Thailand, Filipina, dan Kamboja menghadapi tekanan lebih besar. Kenaikan harga minyak berdampak langsung pada biaya produksi, logistik, dan konsumsi.
“Negara dengan ketergantungan impor energi tinggi akan menghadapi tekanan berlapis: inflasi naik, ruang fiskal menyempit, dan mata uang tertekan secara simultan,” kata Shan.
Namun, Indonesia justru berada pada posisi berbeda. Struktur ekonomi berbasis komoditas serta buffer eksternal yang kuat menjadi faktor utama yang menopang ketahanan.
Dengan surplus perdagangan sekitar US$41 miliar pada 2025 serta surplus nonmigas di atas US$60 miliar, Indonesia memiliki bantalan yang cukup untuk meredam volatilitas global.
“Indonesia berada pada posisi yang berbeda. Skala komoditasnya bertindak sebagai asuransi makro terhadap volatilitas global,” ujar Shan.
Keunggulan Indonesia juga terletak pada dominasi komoditas strategis. Sebagai eksportir utama batu bara dengan pangsa sekitar 50% dunia, serta pemain penting dalam nikel dan minyak sawit, Indonesia diuntungkan dalam kondisi harga energi tinggi.
“Dalam lingkungan harga energi tinggi, Indonesia tidak hanya menyerap shock, tetapi mengonversinya menjadi penguatan neraca eksternal,” tambahnya.
Dalam situasi ini, Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi mampu mengubah disrupsi global menjadi sumber kekuatan ekonomi. Fundamental eksternal yang solid juga membantu menyerap potensi arus keluar modal akibat gejolak global.
Shan menilai pasar akan mulai menilai ulang risiko antarnegara di ASEAN seiring dinamika ini.
“Pasar akan mulai melakukan repricing terhadap risiko ASEAN, membedakan secara tegas antara ekonomi yang rapuh dan yang resilien,” ujarnya.
Meski demikian, risiko tetap membayangi. Kenaikan harga minyak di atas US$110 per barel berpotensi menekan fiskal, terutama melalui peningkatan subsidi energi.
“Ini bukan krisis energi dalam arti tradisional, melainkan ujian terhadap arsitektur ekonomi masing-masing negara,” kata Shan.
Pada akhirnya, dalam lanskap energi global yang terus berubah, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis untuk memanfaatkan volatilitas sebagai keunggulan.
“Dalam tatanan energi global yang baru, sebagian negara akan terpukul, sementara yang lain, seperti Indonesia, mampu memonetisasi volatilitas menjadi keunggulan strategis,” tutup Shan.



























