Logo Bloomberg Technoz

Pada Januari, Bulletin of the Atomic Scientists  memajukan jam kiamat “Doomsday Clock” menjadi 85 detik sebelum tengah malam – jarak terdekat dengan bencana yang pernah tercatat. Mereka mengutip, di antara hal lain, serangan Trump terhadap fasilitas nuklir Iran dan upayanya membangun perisai rudal “Golden Dome”, serta berakhirnya perjanjian pengendalian senjata terakhir antara AS dan Rusia. 

“Kemungkinan perolehan senjata pemusnah massal semacam itu dibahas secara terbuka, bahkan di negara-negara yang telah berjanji tidak akan pernah memilikinya. Namun, semakin banyak senjata nuklir di semakin banyak negara tidak akan membuat dunia lebih aman — justru sebaliknya,” kata Rafael Mariano Grossi, Dirjen Badan Energi Atom Internasional (IAEA), dalam sebuah wawancara.

“Kini lebih penting dari sebelumnya untuk menjunjung norma-norma non-proliferasi yang telah memberikan manfaat besar bagi dunia selama setengah abad terakhir,” kata Grossi. 

Meski saat ini hanya 9 negara yang dianggap sebagai pemilik senjata nuklir, lebih dari 20 negara lain memiliki program energi, basis industri, dan keahlian teknik yang memungkinkan mereka untuk mulai menaiki tangga menuju bom nuklir. Hanya dibutuhkan 25 kilogram (kg) uranium yang sangat diperkaya atau 8 kg plutonium untuk membuat senjata yang mampu menghancurkan sebuah kota kecil.

Secara jumlah, hulu ledak berkurang namun catatan penyebaran negara-negara justru bertambah. dok: Bulletin of the Atomic Scientists

Perlombaan ini didorong oleh keyakinan bahwa tidak memiliki senjata nuklir membuat negara-negara rentan, dengan Libya, Ukraina, dan kini Iran menjadi bukti konsekuensinya. Meskipun memiliki arsenal nuklir tidak menjamin kebal dari serangan, hal itu meningkatkan taruhannya. 

Semakin banyak negara yang memiliki bom nuklir, semakin sulit bagi negara-negara besar mengendalikan penggunaannya, dan semakin berbahaya dunia. Tahun lalu, India dan Pakistan saling melancarkan serangan udara dalam eskalasi terbaru antara kedua negara tetangga tersebut, yang sama-sama memperoleh senjata nuklir pada tahun 1990-an. 

Para ahli non-proliferasi memperingatkan bahwa sistem pengendalian senjata yang dibangun selama Perang Dingin bisa segera runtuh. Sistem tersebut terbentuk setelah Amerika Serikat dan Uni Soviet terpaksa mempertimbangkan kemungkinan kehancuran nuklir dan memutuskan untuk mundur.

Pada tahun 1987, Presiden AS Ronald Reagan dan pemimpin Soviet Mikhail Gorbachev menandatangani perjanjian yang menghapuskan rudal balistik jarak menengah yang diarahkan kedua belah pihak ke perbatasan Eropa. Beberapa tahun kemudian, mereka sepakat untuk mengurangi secara drastis persediaan senjata mereka, yang kemudian menjadi perjanjian New START. 

Kedua perjanjian tersebut dibiarkan kadaluwarsa tanpa pengganti, seiring memburuknya hubungan antara Washington dan Moskow serta kekhawatiran AS terhadap kemampuan China untuk memperluas arsenalnya di luar kesepakatan bilateral. Kini, seiring rudal konvensional secara rutin menghujani kota-kota di Eropa dan Timur Tengah, perjanjian-perjanjian yang tersisa yang menjadi landasan pengendalian senjata global menghadapi masa depan yang tidak pasti. 

Pertemuan PBB untuk meninjau Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons yang berusia 56 tahun bulan depan diperkirakan akan mengungkap penolakan yang semakin besar dari negara-negara pemilik senjata nuklir terhadap pembatasan-pembatasan dalam perjanjian tersebut. Comprehensive Nuclear-Test-Ban Treaty juga berada dalam risiko di tengah ancaman Trump untuk melanjutkan uji coba ledakan dan klaim AS bahwa China secara rahasia melakukan uji coba sendiri.

Skenario terburuk adalah apa yang disebut sebagai ‘efek domino proliferasi’, kata William Alberque, seorang peneliti senior di Pacific Forum yang pernah terlibat dalam negosiasi isu senjata nuklir di NATO dan pemerintah AS.

“Jika Korea Selatan ikut, Jepang pun akan ikut. Kemudian Taiwan ikut. Lalu China panik dan mereka kini memiliki batas waktu untuk invasi ke Taiwan. Kemungkinan terjadinya efek domino di Timur Tengah dan Asia Timur membuat kedua kawasan tersebut jauh lebih berbahaya,” kata Alberque. 

Trump sendiri termasuk di antara para pemimpin dunia yang memperingatkan bahwa bahaya konflik nuklir semakin meningkat. Dalam kampanye pada Oktober 2024, ia mengatakan AS “sangat dekat dengan” Perang Dunia III dan berjanji untuk mencegahnya.

Namun, keputusan AS-Israel untuk menyerang Iran dalam upaya menghentikan program nuklirnya menunjukkan betapa rapuhnya situasi ini. Hingga Juni, pemantau IAEA memverifikasi bahwa Iran memiliki lebih dari 440 kg uranium tingkat bom, yang secara teoritis cukup untuk dengan cepat membuat sekitar selusin perangkat.

Secara jumlah, hulu ledak berkurang namun catatan penyebaran negara-negara justru bertambah. dok: Bulletin of the Atomic Scientists

No more pages