Terlebih lagi pelemahan juga terjadi pada saham PT Astra International Tbk (ASII) amblas 2,81%, saham PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) yang jatuh 2,69%, dan saham PT United Tractors Tbk (UNTR) yang terpeleset 1,22%.
Senada, saham infrastruktur juga terbenam di zona merah hingga jadi sebab pelemahan IHSG, saham PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) drop 4,76%, saham PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR) melemah 4,25%. Saham PT LinkNet Tbk (LINK) melemah 4,22%.
Sementara indeks saham LQ45 yang berisikan saham–saham unggulan turut amblas di tren negatif, dengan penurunan sedalam 1,41% ke posisi 721,402.
Saham–saham LQ45 yang bergerak pada teritori pesimis antara lain, saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) turun 3,77%, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) drop 3,61%. Saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) jatuh 2,91%, dan saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) melemah 2,71%.
Saham LQ45 lain, saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) amblas 2,54%, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mencatat penurunan 2,52%. Senada, saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) melemah 2,41%, dan saham PT Indofood CBP Tbk (ICBP) turun 2,41%.
Panin Sekuritas dalam riset hariannya menyebut, pelemahan saham–saham industrial terjadi seiring dengan penurunan saham ASII sebagai salah satu emiten dengan bobot terbesar, seiringan dengan aksi profit taking pasca kenaikan signifikan.
Investor masih mencermati tensi geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump, menyatakan akan memperpanjang delay serangan ke infrastruktur energi Iran hingga 6 April 2026 di tengah negosiasi yang dilakukan dengan dengan negara Timur Tengah.
Trump juga menyatakan perpanjangan delay serangan infrastruktur Iran karena hadiah dari Iran yaitu pertukaran 10 kapal tanker minyak di Selat Hormuz. Namun patut dicermati, Iran menolak untuk bernegosiasi dengan AS.
IHSG yang dibuka melemah pagi tadi dan tetap berada di zona merah hingga penutupan Sesi I. Pelemahan masih ditopang oleh kekhawatiran eskalasi tensi geopolitik menjelang ekspektasi serangan infrastruktur energi Iran serta harga minyak masih relatif tinggi saat ini.
“Patut dicermati, Indonesia sebagai negara net importir minyak akan terdampak dari kenaikan harga minyak global karena berpotensi meningkatkan inflasi dan memperlebar defisit anggaran. Dari sisi domestik, rilis data pertumbuhan M2 Money Supply menjadi +8,7% YoY (sebelumnya: +10% YoY),” papar Panin Sekuritas siang hari ini, Jumat.
(fad)































