Minyak mentah telah meningkat secara drastis bulan ini, seiring perang antara AS, Israel, dan Iran, hingga mengguncang Timur Tengah yang kaya minyak.
Dengan Teheran memaksa penutupan hampir total Selat Hormuz, konflik ini telah sangat membatasi aliran energi yang vital bagi perekonomian global.
“Kami saat ini berpikir ke depan, dan bukan tentang penyelesaian. Kami memasuki akhir pekan lain dengan risiko masih mengarah ke atas, dan menunggu sesuatu yang lebih buruk daripada sesuatu yang lebih baik,” kata Carl Larry, analis minyak dan gas di Enverus.
Iran mengonfirmasi pada Kamis bahwa mereka menunggu tanggapan setelah menolak rencana 15 poin AS untuk mengakhiri perang dan mengajukan syarat-syaratnya sendiri, dilaporkan kantor berita Tasnim.
Syarat di atas tersebut termasuk pengakuan atas kewenangan Teheran atas selat tersebut, yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global.
Fokus utama para trader tertuju pada jalur perairan tersebut, yang mengangkut sekitar seperlima dari arus minyak global sebelum perang dimulai akhir Februari. Walau terjadi kemacetan yang meluas, dalam 24 jam terakhir terjadi peningkatan tipis pada jumlah kapal yang terkait dengan Iran — kebanyakan kapal pengangkut curah dan kapal LPG — yang berusaha melintas.
Pada hari Kamis, Trump mengatakan dalam rapat kabinet bahwa Iran telah mengizinkan 10 kapal pengangkut minyak melintasi Selat Hormuz sebagai tanda niat baik.
Pada bagian lain, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan bahwa program asuransi yang dimaksudkan untuk meningkatkan pengiriman melalui jalur perairan tersebut akan segera dimulai.
Harga minyak mentah AS telah melonjak hampir 40% sepanjang Maret, dan biaya produk minyak mulai dari solar hingga bahan bakar jet naik lebih tajam lagi, membebani bisnis dan konsumen. Kenaikan ini memicu kekhawatiran akan lonjakan inflasi global dan perlambatan pertumbuhan secara bersamaan.
*) Artikel ini mengalami perubahan berupa update pergerakan harga minyak teraktual.
(bbn)






























