Dia juga tidak memungkiri fenomena rombongan jarang beli (Rojali) dan rombongan hanya bertanya (Rohana) hingga saat ini masih ditemui di kalangan masyarakat.
"Dulu itu kalau kita melihat daripada pola belanja konsumen masih banyak yang bertahan dengan brand-oriented. Itu juga pasti punya pengaruh kepada revenue dan volume. Jadi konsumen [saat ini] mencari barang yang relatif sejenis tapi harganya lebih murah," kata dia.
"Sekarang kan kita pasti lihat mal ramai. Nah ramainya ke mana? Itu yang harus dilihat. Apakah ramai ke counter atau untuk makan? Begitu."
Dalam kesempatan lain, Asosiasi Pengelola Pusat Perbelanjaan Indonesia (APPBI) mengatakan total kunjungan ke mal selama libur Lebaran 2026 mengalami kenaikan rata-rata 11% hingga 12%.
Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaja mengatakan tren tersebut meningkat sejak perayaan hari Idulfitri pertama, dengan periode puncak pada hari kedua. Peningkatan akan terus terjadi hingga akhir pekan ini.
"Berdasarkan data sampai dengan saat ini rata - rata pertumbuhan tingkat kunjungan adalah sekitar 11% - 12% dibandingkan tahun 2025 lalu," ujarnya saat dihubungi, Selasa (24/3/2026) lalu.
Alphonzus mengatakan kenaikan tersebut tidak lepas dari dorongan daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah yang menjadi salah satu faktor utama kinerja ritel selama Ramadan dan Idulfitri.
APPBI memiliki sebanyak 414 anggota pusat perbelanjaan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, yang diperkirakan dikunjungi masyarakat hingga 20 juta orang per hari.
(ain)





























