“Imbal hasil kemungkinan akan tetap tinggi selama harga minyak tetap di atas US$80 per barel, karena pasar terus memperhitungkan ekspektasi inflasi yang lebih tinggi,” kata Albert Budiman, kepala investasi di UOB Asset Management Indonesia di Jakarta. “Penerbitan obligasi korporasi dapat melambat dalam beberapa bulan mendatang, terutama jika ketidakpastian seputar harga minyak terus berlanjut.”
Biaya kredit yang lebih tinggi mulai membebani aktivitas primer setelah awal tahun yang kuat. Penerbitan obligasi korporasi telah turun 52% bulan ini hingga 20 Maret dibandingkan periode yang sama di bulan Februari, meskipun volume masih naik 33% year-to-date dibandingkan tahun sebelumnya, menunjukkan bahwa penerbit telah mengamankan pendanaan sebelum kondisi memburuk.
“Beberapa perusahaan melakukan penggalangan dana lebih awal untuk membiayai kembali jatuh tempo yang akan datang dengan suku bunga yang lebih rendah,” kata Harry Su, direktur pelaksana riset di PT Samuel Sekuritas Indonesia. “Eskalasi konflik di Timur Tengah dapat mendorong kenaikan harga energi dan biaya pinjaman, berpotensi memperlambat lonjakan penerbitan obligasi baru-baru ini.”
Kebutuhan pembiayaan kembali menambah urgensi. Lebih dari Rp374 triliun (22 miliar dolar AS) obligasi mata uang lokal akan jatuh tempo tahun ini, lebih rendah dari Rp458 triliun rupiah yang jatuh tempo tahun lalu tetapi 30% di atas rata-rata tahunan sejak pandemi, mendorong perusahaan untuk memanfaatkan pasar lebih awal meskipun volatilitas meningkat.
Pilihan di luar pasar domestik juga semakin terbatas. Dengan rupiah mendekati titik terendah sepanjang masa dan kekhawatiran atas peringkat kedaulatan yang semakin intensif, pasar obligasi luar negeri dan pinjaman eksternal menjadi semakin sulit diakses — bahkan untuk peminjam dengan peringkat lebih tinggi — membuat penerbit lebih rentan terhadap pengetatan kondisi di dalam negeri.
“Kami mengambil posisi defensif dengan memperpendek durasi dan bersikap selektif, fokus pada obligasi korporasi dengan peringkat lebih tinggi,” kata Budiman dari UOB. “Risiko di segmen yang bermasalah dapat meningkat jika konsumsi domestik semakin melemah.”
(bbn)
































